Usianya Baru 24 Tahun, Pemuda ini Sudah Jadi Doktor Termuda Indonesia

Grandprix hanya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan S2 dan S3

Grandprix Thomryes Marth Kadja, doktor termudah Indonesia

Hebat! Kata- kata ini pantas untuk disematkan pada Grandprix Thomryes Marth Kadja. Gimana nggak, pemuda yang usianya baru 24 tahun ini baru saja menyelesaikan program S3 Kimia di Institut Teknologi Bandung.

Hanya tinggal selangkah lagi Grandprix akan menyandang gelar doctor setelah menjalani sidang disertasi tertutup pada 6 September lalu. Ia bukan hanya memecahkan rekor lulusan S3 termuda di ITB, tapi juga di Indonesia. Wahhh, keren ya?

[ Baca Ini Juga Ya : Gara- gara Naik Gaji, Karyawan di AS ini Patungan Beli Mobil Mewah untuk Bosnya ]

Prestasi Grandprix ini tentunya telah mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Sebab, pemuda ini hanya membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan program S2 dan S3.

Memang, kecerdasan Grandprix sudah terlihat sejak ia masih kecila. Pemuda kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur, 31 Maret 1993 ini sudah mulai mengenyam pendidikan sekolah dasar di usia lima tahun. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan SMA dan masuk ke kelas akselerasi di SMA.

Di usia 16 tahun, anak pertama dari tiga bersaudara ini melanjutkan studinya di Universitas Indonesia jurusan Kimia. Berkat kecerdasannya ini, ia mampu menjadi sarjana di usia 19 tahun dengan predikat Cum Laude.

“Saya saat S1 di UI juga pernah juara olimpiade sains tingkat nasional. Kebetulan juga pas lulus dapat tawaran beasiswa progrma S2 di Korea Selatan,” kata Grandprix seperti dilansir dari detik.com.

Grandprix sempat mendapatkan tawaran beasiswa di Korea Selatan. Sayangnya, karena beberapa pertimbangan, ia tidak jadi mengambil tawaran tersebut. Sebagai gantinya, ia memiliih program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk sarjana Unggul (PMDSU) yang diselenggarakan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di tahun 2013.

Program ini memungkinkan sarjana unggulan dapat menyelesaikan kuliah S2 dan S3 mereka hanya dalam waktu empat tahun. Selama menjadi mahasiswa S3 di ITB, ia memanfaatkan waktu dengan cerma untuk penelitian secara penuh menyelesaikan disertasinya.

[ Baca Ini Juga Ya : Belajar dari Asnawi, Mahasiswa UMY Jadi Sarjana dari Berjualan Gorengan ]

Dalam penelitian itu, Grandprix berkosentrasi di bidang Katalis dengan topik tentang zeolite sintesis, mekanisme dan peningkatan hierarki zeolitZSM-5. Katalis ini sendiri merupakan zat yang bisa mempercepat reaksi kimia di suhu tertentu tanpa mengalami perubahan.

Menurutnya, zeolite bisa dimanfaatkan industry petrokimia untuk membuat minyak mentah menjadi bahan bakar. Atau bisa juga digunakan untuk biogasolin dari produksi minyak sawit dan limbah plastik menjadi bahan bakar.

“Alasannya mengambil Katalis karena sejak S1 saya sudah konsen di sini, jadi lebih mendalami. Apalagi untuk Katalis khususnya zeolit di Indonesia belum berkembang. Industri di Indonesia saja masih impor dari luar negeri,” ungkap dia.

Dalam menyelesaikan program PMDSU, Grandprix mendapatkan bimbingan dari Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya. Lebih hebat lagi, dalam kurun waktu empat tahun, ia mampu mempublikasikan tujuh jurnal ilmiah skala internasional.

[ Baca Ini Juga Ya : Ini Dia Nunuk Nuraini, Insinyur Teknologi Dibalik Cita Rasa Khas Indomie ]

“Target yang diberikan program PMDSU itu lulus empat tahun dengan dua publikasi internasional. Tapi saya bisa melampaui target itu dengan tujuh publikasi internasional,” kata Grandprix.

Wah… benar- benar salut ya. Semoga Grandprix semakin bersemangat untuk meningkatkan prestasinya sehingga bisa berkontribusi lebih banyak untuk masa depan Indonesia nantinya ya.

Komentar

komentar