Belajar dari Asnawi, Mahasiswa UMY yang Menjadi Sarjana dari Berjualan Gorengan

Jangan malu untuk mencari uang sendiri demi pendidikan yang lebih tinggi

asnawi,mahasiswa UMY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,jualan,gorengan,inspiratif

Jangan malu untuk berjualan demi menyokong keuangan dan masa depan. Seperti itulah kira- kira yang Asnawi ajarkan kepada kita semua. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta asal Bangka ini tidak pernah minder dengan profesi sampingannya sebagai penjual gorengannya. Sebaliknya, meraih gelar sarjana ekonomi dengan IPK 3,39 dengan dukungan gorengannya menjadi kebanggaan tersendiri untuknya.

Sehari- hari, Asnawi menjajakan gorengan di sekitar tempat kos yang tidak jauh dari kampus UMY. Meskipun sambil berjualan, ia memastikan bahwa tanggung jawabnya sebagai mahasiswa tetap menjadi prioritas utama dan tidak terganggu dengan aktifitas mencari uangnya. Di tengah kesibukannya berdagang, ia tetap mempun mengerjakan tugas- tugas kuliah dengan sangat baik.

“Tugas tetap saya kerjakan, namun kalau harus meninggalkan berjualan ya saya tinggalkan,” katanya.

Agar kuliah dan berjualan dapat berjalanan beriringan, Awi mengatur waktu dengan sangat cermat. Setiap hari ia bangun pukul 04.00 WIB, lalu melanjutkan shalat subuh.

Usai sholat subuh, ia akan mulai menyiapkan bahan- bahan untuk berjualan. Ia akan pergi ke pasar untuk membeli bahan dagangan dan dilanjutkan dengan mengolah bahan mentahnya. Pukul 06.45, ia sudah harus sudah selesai merapikan bahan dagangannya sebelum berangkat kuliah.

Baca Ini Juga Ya :   Nikah Murah, Mudah dan Berkah dengan Biaya Dibawah 6 Juta

Pulang kuliah sekitar pukul 12.30, Asnawi mulai membuat adonan yang akan dibawanya berkeliling kampung. Awi menghabiskan waktu berjualan di sekitar kampus hingga pukul enam sore. Di malam hari, ia akan melanjutkan untuk kuliah malam jika memang ada jadwal perkuliahan. Sedangkan waktunya untuk istirahat adalah di hari Minggu.

Ia juga menceritakan tekadnya untuk berkomitmen pada dua aktifitas ini. Ia bahkan sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk mengenakan toga sambil membawa dagangan ke kampus saat lulus nanti.

“Saya pernah bernazar dulu, kalau saya lulus, saya akan pakai toga dengan membawa dagangan ke kampus. Saya ingin menunjukkan, penjual gorengan juga bisa menyelesaikan kuliah. Saya membayar kuliah dan membiayai hidup saya juga pakai ini,” kata pemuda yang akrab disapa Awi, ini kepada wartawan di Kampus Terpadu UMY di Tamantirto, Bantul, Selasa (14/2/2017), seperti dikutip dari Detik.com.

Dengan bersemangat, Awi pun menceritakan kebanggaannya saat mengenakan toga sambil membawa pikulan dan dagangan gorengan berupa tahu, tempe dan bakwan di perhelatan Wisuda Periode II di Sportarium UMY.

Di hari besarnya itu, ia membawa gorengan bukan untuk jualan. Gorengan yang ia bawa hari itu khusus untuk dibagi- bagikan kepada orang- orang di sekitarnya, baik itu mahasiswa, orang tua/ wali mahasiswa, tukang parkir dan juga petugas satpam.

Baca Ini Juga Ya :   Susi Sianturi, Lulusan “Cum Laude” IPB yang Kuliah Sambil Jualan Pisang Goreng

Saat ditanya kapan ia mulai berjualan gorengan, ia menjawab sudah sejak tahun 2006. Saat itu, ia harus memupus sementara keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMA. Setelah lulusSMP, ia harus ikut kedua orangtuanya untuk merantau berjualan gorengan. Selama empat tahun itu juga Awi mulai berjualan gorengan secara berpindah- pindah, dan jauh dari kampung.

“Sekolah terhenti dan saya tidak bisa melanjutkan sekolah,” katanya.

Keadaan yang sulit tidak pernah memadamkan semangat Awi untuk kembali melanjutkan sekolah. Di tahun 2009, Awi baru bisa melanjutkan sekolah SMA meskipun usianya sudah agak terlambat. Situasi ini tidak membuatnya minder dan justru ia merasa bersyukur karena mendapatkan kesempatan lagi.

Di tahun 2010, saat kenaikan kelas XI SMA, ia dipercaya sekolah untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Yogyakarta. Dalam program itu kemudian ia ditempatkan di SMK N 7 Yogyakarta.

“Dari situ saya mulai berkeinginan melanjutkan kuliah di Yogyakarta,” katanya.

Asnawi sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kedua saudara perempuannya juga berjualan untuk terus menyambung hidup. Kakak perempuannya mempunyai usaha menjahit, sedangkan sang adik berjualan kaos dan baju.

Baca Ini Juga Ya :   Kisah Polisi Jujur Aiptu Agus, Menolak Uang Suap sampai Sekolahkan Anak Yatim hingga Bangku Kuliah

Di awal berjualan dulu, Awi sempat ingin menyerah karena dagangannya tidak laku seperti harapannya. Sebelum berjualan gorengan, ia sendiri juga sempat berjualan pempek dan mie ayam.

Setelah beralih sebagai penjual gorengan, keuntungan yang ia dapatkan ternyata cukup besar. Ia bisa mengantongi rata- rata keuntungan sebesar Rp 300.000 setiap hari.

“Setelah itu pelan-pelan usahanya naik. Saya bisa membiayai hidup dan pendidikan sendiri, tanpa meminta uang dari orang tua,” katanya.

Awi sendiri bercerita, jika keinginannya untuk sekolah yang tinggi sempat mendapat cibiran dari beberapa tetangga.

“Saya pernah dihina. Saya ingat sekali perkataan salah satu tetangga, ‘Kamu keahliannya hanya buat gorengan saja, nggak mungkin kamu bisa menyelesaikan pendidikan tinggi,'” katanya.

Setelah mendapatkan gelar sarjana ini, Asnawi bahkan berencana untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi, S2, dan bahkan ingin S2 di luar negeri.

“Saat ini saya mau pulang kampung dulu sambil mencari pekerjaan di samping berjualan gorengan lagi dengan orang tua. Saya juga ingin mencari beasiswa S-2 ke luar negeri. Saya lebih berminat jadi wirausaha, walau dulu waktu kecil ya cita-citanya jadi presiden,” kata Awi tertawa.

Komentar

komentar