Dia Bukan Ayah Tiriku, Dia Benar- Benar Ayahku!

Kata mereka dia bukan ayah kandungku, tapi bagiku dia adalah ayah terhebat di dunia…

ayah,bapak

Berita di televisi akhir- akhir ini benar- benar meresahkanku. Ada seorang ayah yang memperkosa putri kandungnya. Ada juga ayah yang memukuli istri dan putranya. Berita itu juga diekspose sedemikian rupa seolah- olah ayah dengan tabiat seperti itu terlalu banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayah yang benar- benar baik dan luar biasa. Dan yang menyedihkan dari itu semua, peringatan untuk berhati- hati dengan sosok ayah muncul.

Ayahku bukan penjahat. Bukan seperti yang muncul di berita akhir- akhir ini. Ayahku adalah pria yang baik dan hebat. Orang bilang dia bukan ayah kandungku karena ayah kandungku meninggal saat aku masih kecil. Entahlah, ayah kandung atau bukan, dia teteplah ayahku yang hebat.

Pernah suatu kali aku bertanya, “apa benar ayah bukan ayah kandungku?”. Ayah tersenyum memandangku, tidak menjawab dan justru balik bertanya, “apa ayah terlihat seperti bukan ayah kandungmu?”. Aku pun menggelengkan kepala. #Ayah pun memeluk ku dan berbisik kepadaku, “Kalau begitu ayah ini ayah kandungmu. Tuhan yang mengirim ayah untuk menjagamu, sayang”.

Ketika aku agak dewasa, aku menanyakan pertanyaan ini lagi, “Ayah.. mereka bilang ayah bukan ayah kandungku?”

Ayah menjawab dengan manis, “Sayang.. dunia orang dewasa itu terlalu rumit. Mereka suka memberi label untuk memberikan sedikit persepsi negatif atau menciptakan suatu citra tentang sesuatu. Label- label itu misalnya ayah tiri, ibu tiri, janda, preman, begundal dan masih banyak lagi. Kita terlalu sibuk melabeli orang daripada menyebarkan cinta dan kebaikan. Kita nggak perlu ikut- ikutan orang lain kan?”

Aku mengangguk, aku sangat setuju dengan kata- kata ayah.

[ Baca Juga Ya : Ketika Anak Kandung Tidak Begitu Peduli pada Sang Ibu ]

“Bagi ayah.. tidak ada istilah anak tiri, ibu tiri atau ayah tiri. Ayah tidak mengenal istilah itu, sayang. Bagi ayah, pertemuan kita ini takdir, Allah yang mempertemukan, tidak peduli bagaimana skenarionya. Dan kamu adalah amanah dari Allah untuk ayah, yang akan ayah jaga sampai mati. Bahkan kalau kamu suatu saat sudah menikah nanti, bagi ayah kamu tetap lah gadis kecil ayah. Ayah tidak akan pernah berhenti menjagamu dan mendoakanmu.”

“Haaaaa….menikah?? Aku ini baru 12 tahun ayah….”, kami berdua tertawa bersama- sama.

Seiring aku tumbuh dewasa, akhirnya aku benar- benar tahu bahwa ayah memang bukan ayah kandungku. Dia adalah ayah tiriku yang menikahi ibuku ketika aku berusia tiga tahun. Tapi bagiku ia tetaplah ayahku. Istilah ‘ayah tiri’ hanya lah label saja. Ayah begitu menyayangi aku dan ibu. Ayah begitu sabar dan penuh kasih sayang dalam menjagaku. Ayah melindungiku dari teman- teman yang nakal, dari kehidupan yang keras dan mengajariku banyak hal. Bersama ibuku, ayah juga sering membantu ku saat aku kesulitan mengerjakan PR atau berbagai masalah yang normal dialami oleh remaja.

Entah kenapa, suatu hari aku begitu kepo bertanya kepada ibu mengapa ayah begitu sempurna. Jawaban ibu awalnya sedikit mengagetkanku, tapi di bagian akhir begitu menyentuhkan.

Begini jawaban ibu: “Ayahmu tidak sempurna sayang. Ayahmu tidak seperti ayah- ayah lain yang berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan mapan. Ayahmu hanya lulusan SD. Di awal menikah dulu, ayahmu hanya lah seorang tukang bangunan”

Baru kali aku mengetahui bahwa ayah hanyalah seorang lulusan SD. Di mataku ayah tidak nampak seperti lulusan SD karena beliau senang mengajarkanku banyak hal dan suka membaca.

“tapi…”,

[ Baca Juga Ya : Kalau Kamu Menikah Lagi, Jangan Pernah Berpikir untuk Meninggalkan Anakmu ]

Ibu melanjutkan ceritanya, “Ayahmu adalah tipe orang yang rela mengorbankan nyawanya demi membahagiakan kita berdua. Ayah bekerja keras setiap hari memperjuangkan kita agar memiliki kehidupan yang layak. Dulu hidup kita susah sayang, tapi atas kerja keras ayah, sekarang kita memiliki hidup yang layak seperti ini. Begitulah ayahmu. Dia pekerja keras. Ia tak mau kekurangannya menjadi alasan untuk anak dan istrinya untuk tidak bahagia. Ia memang tidak sempurna, tapi kehadirannya adalah kesempurnaan bagi kita. Adek sayang ayah, kan?”.

Aku mengangguk penuh haru dan kemudian aku memeluk ibu. Ayah memang benar pria yang hebat dan bertanggung jawab. Ia memanjakanku sekaligus mengajariku cara menjadi mandiri secara bersamaan. Ayah memang kini memiliki penghasilan yang lumayan dari usaha yang ditekuninya, tapi ia pandai mengajarkanku untuk hidup sederhana tanpa membuatku merasa dikekang atau dipaksa.

Aku semakin kagum dan sayang dengan ayahku. Bagiku, ia adalah the real hero, pahlawan yang sesungguhnya. Aku juga kagum dengan ibuku. Melalui ceritanya, aku jadi tahu bahwa perempuan tidak seharusnya menilai seorang laki- laki dari ijazahnya semata.

Ibu adalah perempuan yang mau menerima orang yang dicintainya dengan ikhlas karena ia percaya jodoh adalah Tuhan yang mengatur. Ketika kita dipertemukan dengan #jodoh kita, maka berjuanglah bersama- sama. Tidak apa- apa menderita bersama di awal- awal karena memang hidup harus diperjuangkan. Suatu saat, hidup harus lebih baik dan mengalami peningkatan.

Yang terpenting, kata ibu, carilah pria yang sayang padamu dan mau bertanggungjawab untuk memberimu yang terbaik. Carilah pria yang memiliki kualitas yang baik, walaupun belum mapan, tapi perjuangannya dapat kau rasakan mengalir di seluruh urat nadimu. Ia anti memukulmu, anti bersikap kasar terhadapmu, anti membuang mu, anti memperlakukan mu sesuka hati dan yang pasti anti selingkuh. Pria seperti ini lah yang setiap hari akan memandangmu sebagai perhiasannya yang paling berharga, yang akan dia jaga dengan sepenuh jiwa. Masalah harta itu mudah, karena pada dasarnya sesuatu yang bersifat materi bisa diperjuangkan.

[ Baca Juga : Ibu, Kakak itu Seorang Ibu yang Payah! ]

Banyak memang pria mapan yang terlihat elegant dan tampan di luar sana. Tapi tidak sedikit kemapanan yang dipamerkan itu adalah jerih payah orang tuanya saja. Sedangkan ia hanya sibuk bermalas- malasan dan menikmati harta warisan tanpa mengenal arti kata berjuang. Pria seperti ini, yang tidak mengenal arti sebuah perjuangan jarang menjadi pria yang setia kepada pasangannya. Boleh saja silau dengan materi, tapi wanita harus tahu hal itu tidak bisa membuatnya benar- benar merasa tentram dan bahagia.

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.