Ibu, Kakak itu Seorang Ibu yang Payah!

Menenangkan anaknya yang rewel saja tidak bisa…

ibu,lelah,payah

Aku tidak tahan lagi dengan kakak ku. Dia benar- benar seorang ibu yang payah. Menggendong anak bayinya dengan selendang saja tidak bisa, harus pakai gendongan instant. Menenangkan anaknya yang rewel juga tidak bisa. Ibu macam apa sih dia! Ya… ya… aku mungkin hanya anak SMP saja. Tapi bahkan dari mata kaca mata anak SMP saja… dia terlihat begitu amatiran sebagai ibu. Benar- benar memalukan!

Setelah memberikan anaknya yang kujaga sebentar saat kakak mandi tadi, aku tak tahan lagi untuk ke dapur mengeluh pada ibu. Hampir setiap hari aku juga ikut direpotkan dengan aktifitas menjaga bayi. Kenapa sih dia tidak bisa menjaga anaknya? Kan dia juga di rumah seharian? Kenapa sih harus merepotkan orang lain? Kalau belum siap jadi seorang ibu, kenapa nggak direncanakan dan belajar dulu sih? Ya Tuhann…!

“Ibu, kakak itu seorang ibu yang payah! Dia nggak bisa ngurus anaknya sendiri.”

Ibu ku hanya tersenyum. Dia mematikan kompor yang baru saja dipakainya selesai memasak sayur. Dia mengajakku duduk ke beranda depan. Melihat kakakku sedang asyik di ruang tamu bersama bayinya, ibu mulai mengajakku bicara.

“Kakakmu bukan #ibu yang payah, sayang. Dia akan menjadi ibu yang luar biasa..”, Ibu tidak setuju dengan pernyataanku.
“Tapi ibu lihat sendiri kan… kakak itu banyak nggak bisanya.. Kakak itu…”

Belum selesai aku berbicara ibu menepisku…

“Sayang…. menjadi seorang ibu itu tidak ada sekolahnya. Semuanya berproses. Seorang bayi tidak akan langsung tumbuh menjadi balita yang lincah dan pandai mengoceh, pun seorang wanita untuk menjadi seorang ibu. Bahkan, ini adalah proses yang sangat sakral dalam kehidupan seorang manusia… karena Tuhan ikut campur secara langsung dengan menitipkan malaikat kecil- Nya untuk dijaga oleh manusia yang dipilih- Nya, untuk membuka hati- hati orang disekitarnya agar lebih memahami hidup dan berkasih sayang. Siapa yang bertanggung jawab untuk membantu seorang wanita biasa menjadi ibu yang luar biasa? Tentu saja kita- kita yang ada di sekitarnya. Jika lebih banyak dari kita yang lebih pintar menghakimi daripada memaklumi, maka dunia akan menjadi lebih buruk lagi setiap harinya. Akan ada banyak orang beragama diluar sana yang menggunakan agamanya sebagai alat untuk menghina dan memojokkan agama orang lain daripada menjadikan dirinya manusia yang lebih paham akan kemanusiaan dan menjunjung tinggi ketuhanan itu sendiri. Akan ada lebih banyak orang yang menggunakan ilmunya untuk memuaskan egonya demi karir daripada mendampingi tumbuh kembang anaknya. Mereka akan malu jika dirinya tidak berkarir tinggi, sementara mereka tidak tahu bahwa anaknya sudah teracuni dengan pornografi dan benalu kehidupan. Jika hal itu terjadi, anak- anak di masa depan akan menjadi generasi hitam, dimana lebih banyak orang mencari kesalahan orang lain daripada mencari solusi dan jalan keluar. Kerusuhan dan kebencian akan semakin banyak bertebaran dimana- mana. Tidak apa- apa kakakmu belum bisa menjadi ibu yang hebat saat ini, karena pasti dia akan menjadi ibu yang super hebat… asal kita semua mau mendampinginya. Dan tentu saja kamu lebih beruntung dari kakakmu nak, karena kamu bisa belajar menggendong dan menghadapi bayi di usia yang sangat muda, sehingga nanti kamu akan lebih biasa dan tenang ketika masanya tiba. Kakakmu mungkin masih perlu banyak belajar, tapi bukan berarti dia ibu yang payah. Coba sekali- sekali pandang lah wajah lelahnya, maka kamu bisa melihat pancaran kasih sayang dan kelembutan hatinya.”

Aku terdiam, aku merasa dipermalukan. Tidak… aku merasa benar- benar malu terhadap diriku sendiri. Adik macam apa aku ini.. wanita macam apa aku ini.

“Sudah paham nak sekarang??”

Aku mengangguk,“Maaf ibu… aku yang keterlaluan sampai berpikir seperti itu.. aku benar- benar…”

Ibu mendekapku dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.

“Setiap wanita itu terlahir untuk menjadi hebat, sayang. Mereka diciptakan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Namun untuk menjadi lebih sempurna lagi, menuju proses menjadi seorang ibu, wanita akan mengalami banyak proses emosional yang benar- benar menantang ego dan karakternya. Seringkali wanita mudah stress karena orang- orang disekitarnya tidak memberinya waktu yang cukup untuk tumbuh, tapi hanya sibuk menghakimi dan mengoreksi.”

Aku benar- benar malu. Tidak.. tidak perlu malu. Aku  pun tidak sempurna, dan aku pun sedang berproses, dari belum baik menjadi lebih baik. Dan setiap harinya, aku akan belajar banyak.

Kurasa jika aku harus menggambarkan sosok- sosok ibu yang paling hebat, maka ibu lah yang pertama akan aku tuliskan.Dia begitu luar biasa, sabar dan penuh kasih sayang. Sekali pun ia tak pernah marah. Ia pun tetap tersenyum dalam lelah, untuk membantuku dan kakak ku tumbuh menjadi wanita yang baik, tangguh, cerdas dan mandiri. Dan bagaimana bisa kakakku menjadi ibu yang payah jika ia sendiri dibesarkan oleh wanita yang luar biasa??

[ Baca Ini Juga Ya : Kalau Kamu Menikah Lagi, Jangan Pernah Berpikir untuk Meninggalkan Anakmu ]

Moral of The Story :
Seringkali kita lupa dan hanya bisa memaksa #wanita di sekitar kita untuk langsung bisa menjadi ibu tanpa melalui prosesnya. Kita sibuk mengkritisi ketika wanita belum bisa masak setelah dia menikah, mengkritisi kenapa wanita tidak bisa menggendong bayinya dengan selendang atau kenapa dia begitu kaku ketika melihat bayinya menangis atau terlihat tidak sehat. Mereka lupa bahwa menjadi ibu pun berproses.. sebuah proses yang sangat sakral karena Tuhan ikut serta secara langsung. Jadi, kenapa kita masih meluangkan banyak waktu untuk menggunjing ibu baru dan menghakimi mereka? Kenapa kita sedikit memaklumi dan membuat mereka nyaman untuk belajar? Kenapa kita tidak membantu mereka dengan tulus tanpa ada satu detik pun kedipan mata yang meremehkan dan merendahkan? Bisa kah kita melakukannya? Untuk membuat setiap wanita yang berproses menjadi ibu mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan membahagiakan dalam hidupnya?

Sebarkan lah cinta dan kebaikan, maka dunia ini akan menjadi tempat yang lebih penuh dengan kebaikan dan kasih sayang.

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.