Kalau Kamu Menikah Lagi, Jangan Pernah Berpikir untuk Meninggalkan Anakmu

jika dia tidak bisa menerimamu apa adanya, maka seberapa cintakah dia dengan kamu?

anak sedih,menikah lagi,sedih,kasihan,quotes,gambar

Tidak ada yang salah dengan menikah lagi. Terlepas dari apa penyebabnya, entah karena bercerai atau pasangan meninggal, menikah lagi adalah hak setiap manusia. Kamu berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kamu berhak untuk bahagia pasca trauma pernikahan. Saya yakin, Tuhan juga setuju kalau kamu berhak bahagia. Tapi ingatt… asal dilakukan dengan cara yang benar.

Sebut saja Alia. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal ibu dan ayahnya. Sejak kecil neneknya lah yang mengasuhnya. Jangankan kenal orang tuanya, sejak usia 5 tahun, Alia tidak pernah melihat lagi orang tua. Tidak ada kenangan sedikit pun. Yang ia tahu, dari cerita orang- orang, orang tuanya bercerai, dan kemudian menikah lagi, lalu masing- masing hidup bahagia dengan pasangan baru mereka.

Apakah Alia sedih? Tentu saja. Dia setiap hari membantu nenek berjualan di pasar. Walau terlihat bersemangat dan selalu bahagia, Alia merasakan kekosongan dalam dirinya. Neneknya memang bisa menyekolahkannya. Tapi untuk itu, neneknya mengorbankan waktu yang sangat besar. Nenek tak sempat memiliki waktu untuk bercerita dengan si cucu atau memberikan kehangatan yang dibutuhkan oleh anak- anak dan ketika ia tumbuh dewasa. Itu masih tidak membuat Alia sedih, karena ia pun tahu diri, bahwa neneknya sudah berjuang mati- matian agar ia bisa sekolah.

Sayangnya ibu Alia ini adalah anak tunggal, sehingga secara otomatis ia tidak memiliki tante atau om yang ikut menjaganya dan mengisi kekosongannya. Sesekali ada rasa sakit yang tak bisa diungkapkan ketika ia melihat teman- temannya dijemput orang tua dan mendapat satu atau dua kecupan di pipi. Ada perasaan hampa luar biasa setiap kali ia melihat kerumunan orang tua di acara pembagian raport. Kalau bukan karena kuat mental saja, Alia mungkin sudah terjerumus ke pergaulan yang salah atau stress berat. Tapi sekali lagi, ia adalah wanita yang kuat dan tahu diri karena melihat perjuangan neneknya. Selain tidak mendapatkan kasih sayang, ia juga merasa terbebani jika tidak bisa membalas kebaikan neneknya. Baginya, menjadi anak yang baik adalah harga mati, jadi dia pun berusaha menjaga diri.

Berapa banyak anak seperti Alia di sekitar kita? Sangat banyak! Tapi Alia adalah contoh yang beruntung, karena ia masih  memiliki nenek yang memperjuangkannya, dan di cerita ini ia digambarkan sebagai sosok yang kuat mentalnya. Di luar sana, banyak anak yang tidak sekuat Alia. Banyak yang nasibnya lebih malang : tidak bisa melanjutkan sekolah, mentalnya tidak kuat, sering stress dan akhirnya terjerumus ke narkoba atau pergaulan bebas, hamil tanpa tahu dengan siapa, dan siklus ini berulang seperti lingkaran setan. Tidak bisa dipungkiri, setidaknya beberapa orang yang membaca ini pasti pernah mendengar cerita tentang orang- orang di dekatnya yang mengalami nasib seperti ini.

Bahkan ada juga cerita tentang lima bersaudara yang ditinggal orang tuanya entah kemana. Kasusnya hampir sama, kedua orang tua bercerai dan masing- masing ingin lari dari kehidupan masa lalu dan membangun kehidupan yang baru. Mereka menganggap kehidupan masa lalu mereka sebagai dosa dan racun yang ingin dinetralkan. Mereka tak pernah kembali ke rumah. Tak pernah peduli bagaimana nasih kelima anaknya itu. Mereka mendadak amnesia. Mereka pun bahagia juga untuk menyambut kelahiran putra- putri di keluarga barunya. Terharu karena Tuhan masih memberi kepercayaan -perasaan ini sama seperti mereka mendapatkan anak mereka pertama kalinya.

Baca Ini Juga Ya :   Suami Istri Seumuran, Resiko Bercerai Lebih Kecil

Lalu bagaimana dengan anaknya? Si sulung adalah drop out SMA dan bekerja dengan dua job berbeda agar bisa menghidupi adik-adiknya. Si adik yang duduk di bangku SMP pun mau keluar sekolah untuk menjaga adiknya yang masih kecil- kecil. Bagaimana bisa tega meninggalkan si adik yang baru berumur kurang dari satu tahun?? Itu pun si adik sudah terbiasa minum air putih dan susu kental manis. Keluarga terdekat, sang paman juga tidak bisa membantu banyak karena beliau juga termasuk keluarga menengah kebawah. Meski begitu, ia dan tetangga sekitar sering datang ke rumah untuk sekedar mengirimkan makanan.

Namun sekali lagi, contoh diatas masih lebih baik. Kenapa? Karena si sulung dan adiknya digambarkan sebagai anak yang bertanggung jawab. Mereka sadar diri untuk menjaga satu sama lain, bagaimana pun pedih yang mereka alami. Ada yang lebih buruk? Ya, adaa… ketika sang kakak tidak kuat mental dan terjerumus ke narkoba dan pergaulan bebas. Si sulung bisa saja ikut menghilang atau melakukan tindakan kekerasan pada adik- adiknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mereka yang masih sangat polos ini semua akan hancur. Siklus lingkaran setan juga bisa terulang untuk menghasilkan anak- anak yang kosong dan hatinya hancur. Generasi hitam mulai bertumbuhan. Dan kita hanya bisa berujar prihatin, meskipun kita mungkin salah satu orang yang pernah melakukan dosa serupa atau melihat kejadian ini di sekitar kita lantas memilih untuk diam saja. Acuh.

Orang Tua yang Rela Meninggalkan Anaknya Demi Menikah Kedua Kalinya itu Banyak ….

Sayangnya… di realita, tidak sedikit dari mereka yang menikah lagi dengan mengabaikan sakralnya tanggung jawab dalam mengurus anak. Banyak dari mereka yang memilih tinggal dengan pasangan barunya, sedangkan anak dari pasangan yang terdahulu diabaikan dan seolah- olah dianggap beban.

Ada yang ditinggal bersama #orangtua atau mertua. Dan parahnya, si ibu atau si ayah ini seakan lupa dengan anaknya itu. Jarang menengok atau bahkan tidak pernah kembali lagi. Seolah ingin membuang kehidupan masa lalunya. Seolah anaknya itu tidak pernah ada. Padahal di hidupnya yang baru mereka juga memiliki anak. Namun entah bagaimana, perasaannya terhadap si anak yang dulu sangat disayanginya itu hilang. Terbang entah kemana. Tidak tersisa rasa belas kasihan.

Heiii wanita, heii pria, yang menikah lagi dan melakukan hal bodoh ini…. jika kamu memilih menelantarkan anakmu demi kehidupan baru, dan berpikir anakmu ini akan mengganggu kebahagiaanmu dengan wanita atau pria baru dalam hidupmu, maka manusia seperti apakah kamu? Bagaimana dengan rasa sayang yang dulu kamu curahkan pada anakmu? Dimana nuranimu?

Pernahkah kamu berpikir bagaimana hampanya anakmu tanpa dirimu?? Mungkin benar dia masih bisa hidup dari kasih sayang dan belas kasih orang- orang di sekitarnya, tapi kamu tidak pernah tahu betapa hampa dan kosongnya hati mereka? Dan salah satu pertanyaan terpenting, kalau orang lain bisa menaruh belas kasihan padanya, kenapa kamu sebagai orang pertama yang menyambutnya sebagai malaikat suci tidak punya belas kasihan kepadanya? Kenapa egomu yang sebesar gunung itu menghilangkan rasa kasih sayang yang dulu begitu besar? Karena trauma pernikahan? Kebohongan besar!

Baca Ini Juga Ya :   Pernikahan Tidak Membuat Hidup Wanita Lebih Bahagia? Benarkah Seperti itu?

Kenapa Malu Kalau Sudah Punya Anak? Dia Tidak Bisa Menerimamu Apa Adanya? Kamu Malu dengan Anakmu??

Beberapa wanita, hanya karena kehidupan pernikahannya tidak seperti yang ia harapkan kerap memilih untuk meninggalkan anaknya demi pria lain. Baginya, ini adalah kesempatan kedua, untuk menebus rasa tidak bahagia di pernikahan sebelumnya. Harapan wanita memang kerap terlalu besar saat menikah. Mereka ingin cerita cintanya seperti film romantis Korea atau India. Hello baby, real life ain’t that easy! Be real!

Dan ketika ia bertemu dengan pria baru yang menginginkannya untuk bersama, wanita sering merasa sulit untuk menolak. Padahal pernikahan sebelumnya telah memberinya pelajaran berharga. Setelah gagal, wanita sudah seharusnya punya prinsip dan menjadi lebih kuat, bukan rapuh dan mudah diombang- ambingkan.

Wanita yang tidak punya prinsip dan nuraninya terkikis ini akan mudah saja mengiyakan ajakan si pria untuk menikah bersama dan membangun kehidupan baru…. Dengan meninggalkan si anak dari pernikahan lama. Dan akhirnya mereka menikah dan bahagia, lupa dengan kehidupan lamanya. Cerita yang sama berlaku pada si pria atau si ayah.

Bayangkan bagaimana wajah anakmu, dan bagaimana dia akan memandangmu sebagai orang asing suatu saat nanti
Ketika kamu merasa sedih, hampa dan menderita karena trauma pernikahan, jangan pikir hanya kamu yang merasakan penderitaan itu. Anakmu juga akan sangat sedih dan luar biasa hampa jika kamu meninggalkannya demi hidup ‘bahagia’ bersama orang lain. Anakmu akan merasa terbuang dan tidak ada yang menyayanginya. Ia akan merasa sangat sendirian di dunia ini, walaupun Tuhan dan malaikat- malaikat- Nya selalu ada untuk menjaganya. Entah bagaimana hidupnya nanti, itu sangat tergantung dari belas kasih orang- orang di sekitarnya, kekuatan mentalnya dan pengaruh lingkungannya.

Suatu saat nanti, ketika kamu tidak bahagia dengan kehidupan pernikahanmu yang lain, kamu mungkin saja ingin kembali untuk melihat anakmu. Tapi terlambat, anakmu tak lagi mengenalmu. Dia mungkin tetap menganggapmu sebagai orang tua karena rasa hormat ( yang terkait dengan norma agama dan kesopanan ) dan tak ingin dicap sebagai anak durhaka, tapi kamu tak pernah hidup di hatinya, dan tidak di memorinya. Baginya orang tua hanya lah sebuah istilah, tidak pernah terasa nyata untuknya.

Dia akan melihatmu dengan pandangan seperti pada orang asing. Di saat itu terjadi, kamu bisa merasakan perih, sebab kamu bisa melihat jauh ke dalam hatinya  dan melihat betapa dia pernah terluka. Kamu bisa melihat kehampaan di matanya dan ada lubang di hatinya. Betapa pun kamu mencoba untuk memperbaikinya, perih itu tidak bisa ditutup dengan rasa bahagia yang baru. Mungkin bisa, tapi sangat tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Dan di saat itu terjadi, kamu akan berharap untuk tidak pernah meninggalkannya waktu itu. Tapi sekali lagi, itu sudah terlambat.

Kalau Dia Mencintaimu, Dia Akan Melihat Anakmu sebagai Bagian Dari Dirimu
Ini point utamanya. Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan melihat anakmu sebagai orang lain. Dia akan melihatnya sebagai bagian dari dirimu. Dia akan melindungi anakmu dengan cara yang sama baiknya dengan melindungimu. Dia akan menyayangimu dan anak- anakmu dengan tulus, tanpa melihatnya sebagai anak tiri atau buah dari sperma pria lain. Kalau pria yang ingin menikahimu tidak bisa melakukannya, tanyakan pada dirimu sendiri dulu : “Seberapa cinta sih dia sama kamu? Yakin dia akan menghargaimu sebagai wanita yang pernah menikah? Yakin kamu akan benar- benar bahagia seperti harapanmu??

Baca Ini Juga Ya :   Nikah Murah, Mudah dan Berkah dengan Biaya Dibawah 6 Juta

pasangan,menikah,anak,pria,wanita,kutipan,quotes,gambar kata
Jika kamu saja tidak yakin, sebaiknya tinggalkan saja. Kamu berpotensi untuk terjebak pada pernikahan yang salah untuk kedua kalinya. Mungkin saja kamu tidak merasakan di awal- awal pernikahan. Tapi yakin lah, hukum karma itu pasti ada. Apalagi Tuhan adalah sang pemilik anak mu. Dia pasti tidak rela dengan perlakuanmu terhadapnya.

Sadari lah Anak adalah Titipan Tuhan
Ketika banyak orang yang membuang bayinya tanpa ampun, maka mereka yang berjuang bertahun- tahun untuk mendapatkan keturunan adalah orang yang paling sedih sedunia. Kok ya bisa manusia yang belum punya dosa dibuang seperti itu? Kok ya sudah mati nuraninya? Daripada dibuang atau dibunuh, lebih baik kamu titipkan di panti asuhan. Setidaknya si malaikat mungil ini akan ada yang mengasuhnya. Setidaknya kamu masih menghargai haknya sebagai manusia untuk hidup dan tumbuh.

Meskipun  kelahiran si anak bisa jadi karena kesalahan ( hamil sebelum menikah ) atau pernikahan pertamamu adalah pernikahan yang tidak membahagiakan dan membuatmu ingin lari, please jangan pernah sia- sia kan anakmu. Anakmu  bersih dari dosa, dia adalah titipan Sang Illahi. Dia adalah makhluk yang masih suci. Sayangilah ia.. beri ia cinta dan kehangatan. Jadikan lah ia sebagai prioritas.

Katakan pada pria atau wanita yang ingin menikahimu lagi, bahwa anakmu adalah bagian dari dirimu. Anakmu adalah prioritasmu dan kamu akan membawanya kemanapun kamu pergi. Buatlah komitmen untuk selalu mengutamakan anak dan tidak membeda- bedakan anak berdasarkan statusnya. Tegaskan bahwa kamu akan langsung pergi dan lari dari hidupnya jika sampai ia melakukan hal buruk pada anakmu. Kedengarannya sangat serius, tapi ini sangat penting dan harus dilakukan, jika kamu benar- benar  bertanggung jawab terhadap anakmu dan bertanggung jawab pada Tuhan.

anak,menikah,diri,quotes,gambar kata
Anak adalah titipan Tuhan, entah bagaimana pun caranya ia sampai padamu. Tidak ada salahnya menikah lagi untuk yang kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya atau lebih. Orang lain tidak berhak menilaimu dari jumlah pernikahanmu. Tapi bukan kamu saja yang berhak untuk bahagia dan mendapatkan kehidupan yang layak. Anakmu juga berhak.. dan bahkan sangat berhak. Jangan biarkan ia hanya menerima kutukanmu yang ingin lari dari pahitnya kehidupan. Hanya wanita atau pria bodoh yang meninggalkan anaknya demi hidup bersama pasangan barunya. Pikirkan lah lagi, karena kesempatan untuk memperbaiki tidak selalu ada.

 


*Ditulis dengan hati, berangkat dari keprihatinan tentang seorang sahabat yang dari kecil sudah ditinggal orang tuanya pasca perceraian, dan juga banyaknya kejadian serupa di sekitar kita

Komentar

komentar