Kenapa sih Umat Beragama di Indonesia Suka Ribut?

Agama itu terlalu sakral untuk menjadi bahan perdebatan..

agama,keyakinan,Indonesia,budaya,beragama

Kenapa ya umat beragama di Indonesia suka ribut? Eitss tunggu dulu…. Headline nya memang begitu, tapi Saya tidak sedang menulis artikel kontroversial atau provokasi, Saya ingin kita semua merenung dan kembali ke dasar. Dasar apa? Dasar mengapa kita beragama. Agama apa? Apa pun agamanya, karena Saya percaya setiap agama itu baik. Lho…. kan cuma ini agama yang terbaik, nanti situ masuk neraka lho? Anda kenal orang dalam kok tahu Saya akan masuk neraka?

Sudah.. cukup sudah! Memang selama ini kita banyak belajar teori ini dan itu tentang surga dan neraka. Dan Saya pun tidak ragu sedikit pun bahwa surga dan neraka itu memang ada dan diciptakan sebagai balasan apa yang kita perbuat di dunia. Tanpa meragukan sedikit pun, Saya percaya bahwa orang yang layak lah yang berpeluang masuk ke surga. Sama halnya dengan neraka. Dan itu adalah hal yang terlalu besar untuk kita debatkan dalam percakapan yang dangkal. Apalagi setiap agama memiliki teori yang berbeda. Sampai disini stop dulu. Jangan menyanggah dan membandingkan keyakinan Anda dengan yang lain. Jangan bilang penulis adalah seorang atheis. Jangan pernah berpikir Anda berhak menghakimi orang lain, yang bahkan Anda belum kenal betul.

Keyakinan Beragama adalah Hal yang Sakral
Bagi Saya, keyakinan beragama adalah sesuatu yang sangat sakral. Itu jika Anda bukan hanya sekedar belajar teori dan fanatism buta, tapi bisa melihat betapa indahnya setiap agama dalam menyentuh umatnya. Keyakinan itu tumbuhnya dari hati, dan mengakar begitu kuat di dalam benak dan sanubari seseorang. Jika Anda merasa beragama tapi datar- datar saja, bisa jadi sebenarnya keyakinan Anda sendiri belum kuat. Anda belum benar- benar memahami ajaran yang Anda anut. Anda hanya ikut- ikutan dan sekedar menjalankan teori.

Postingan ini sendiri tidak membahas agama terlalu dalam karena ini dibuat dari sudut pandang yang netral. Yang ingin Saya tekankan disini, ketika seseorang sudah memiliki keyakinan yang mantap, maka hidupnya akan cenderung lebih damai. Ia fokus beribadah dan mengikuti ajaran agamanya, tanpa membandingkan agamanya dengan agama lain, ibadahnya dengan ibadah orang lain atau bahkan meluangkan waktu untuk mencela agama orang lain.

Untuk apa sih kita membandingkan agama kita dengan agama orang lain? Ibadah kita dengan ibadah orang lain? Untuk apa? Keyakinan yang tumbuh di sanubari kita ini bukan untuk dibandingkan. Setiap orang punya keyakinan yang berbeda. Dan itu sangat tidak bisa dipaksakan, tidak mudah diubah dan tidak mudah dipengaruhi, apalagi Cuma dengan provokasi dan materi. Harusnya seperti itu. Jadi nggak perlu lah kita ikut- ikut provokasi. Nggak perlu juga membuat postingan tandingan untuk melawan #provokasi dengan bahasa yang alay. Berdakwah memang penting, tapi kita buat dengan selembut mungkin, nggak perlu ngotot paling benar, menggurui apalagi memaksakan pendapat. Sekali lagi, keyakinan itu ndak bisa dipakasakan lho ya.

Baca Ini Juga Ya :   Dipersunting Putra Bungsu Amien Rais, Wanita Ini Tinggalkan Pacarnya yang LDR

Bagaimana Caranya agar Umat Beragama di Indonesia tidak suka ribut?

Sebenarnya, kalau kita lihat, keributan umat beragama itu sering suka ributt hanya di sosial media. Motifnya bermacam- macam. Ada yang memang sengaja demi menambah friend list atau likes, ada yang sengaja usil, ada yang tidak bisa menjaga lisan, ada yang tidak peduli dengan perasaan orang lain atau hanya sekedar ikut- ikutan. Nah sebagai umat beragama kita harus cerdas untuk membedakan.

1. Think Smart, Abaikan Akun Kontroversial di Sosial Media
Sering melihat akun tertentu yang mengadu domba antar umat beragama? Dan parahnya dia sendiri mengaku sebagai ahli agama, dengan label ‘Ustadz’ atau ‘Pendeta’ dan sejenisnya. Abaikan.. abaikan… abaikan..! Kalau perlu setting supaya postingan mereka tidak muncul di beranda kita. Memang kadang mereka membuat postingan yang terlihat menarik dengan kombinasi bahasa yang menjual untuk membuat Anda tergoda membaca dan membagikan. Tapi percaya lah, ahli agama yang baik tidak akan melakukan hal itu. Bisa jadi, dia tidak punya dakwah di sosial media, apalagi sampai membalas komen satu per satu.

Jangankan si dia, Anda pun bisa membuat akun page dengan embel- embel ‘Ustadz’, lalu pasang foto profil sedang mengenakan peci. Habis itu posting deh beberapa ayat dan mulai menebar provokasi. Tapi sekali lagi pertanyaan Saya, untuk apa?

Jadi ketika Anda melihat akun seperti ini, sudah…. tahan diri untuk tidak like, komen dan share. Abaikan saja, atau secara tidak sadar Anda ikut membantu akun si ahli agama abal- abal itu untuk semakin tumbuh dan besar. Akhirnya popularitasnya meledak, dia semakin terkenal dan semakin banyak orang yang menjadi penganutnya. Kalau sudah begini, mau dibawa kemana agama kita?

2. Hindari Untuk Posting Tentang Keyakinan Agama secara Berlebihan
Anda mau berdoa di Facebook dan sharing ayat- ayat suci? Tidak masalah kalau tujuannya adalah baik dan meng- edukasi teman- teman yang berkeyakinan sama dengan Anda. Tapi kalau tujuannya untuk memojokkan agama orang lain dan terlalu mengagung- agungkan agama sendiri, sebaiknya dihindari. Suka atau tidak, keyakinan setiap orang itu berbeda dan itu adalah hal yang sangat tidak bisa dipaksakan.

Agama Anda adalah yang paling bagus menurut Anda. Tapi bagi orang lain, agama mereka adalah yang terbaik. Di teori agama Anda dengan seperti ini dan ini berpeluang masuk surga dan yang seperti itu dan itu akan masuk neraka… ini tidak perlu ditulis di sosial media. Kenapa? Di teori agama lain ceritanya sudah berbeda. Kecuali jika di Facebook Anda yakin postingan Anda hanya dibaca oleh mereka yang satu keyakinan dengan Anda. Kalau tidak hindari saja, agar tidak menyinggung orang lain atau menciptakan postingan tandingan. Beragama bukan untuk berkompetisi kan?

Baca Ini Juga Ya :   Kenalan Dulu Sama Griselda Sastrawinata, Animator Film “Shrek” asal Indonesia

3. Jangan Banding- Bandingkan Agama Anda
Hindari membandingkan agama Anda dengan agama lain. Terlepas dari mana yang paling benar ( sesungguhnya di mata Tuhan ), setiap teori agama itu berbeda tentang bagaimana umatnya meraih surga. Dan selama ini belum benar, cukup kita sendiri yang menyimpan kepercayaan kita tentang surga dan neraka. Selain itu, kalau Anda sudah mantap dengan agama Anda, ngapain Anda sibuk untuk membanding- bandingkan agama Anda? Agar agama Anda terlihat lebih unggul dan jumawa? Hey bung, agama bukan arena lomba? Orang yang khusyuk beragama pasti akan merasa bahwa waktunya lebih bermanfaat untuk digunakan beribadah, bukan untuk nyinyir. Setuju?

4. Tidak Usah Ikut- Ikutan dan Terlarut
Sekali lagi, dakwah itu sangat baik. Tapi pastikan Anda menggunakan akal sehat dan juga menghargai perbedaan keyakinan ini. Jangan dakwah hanya untuk ikut- ikutan dan terlarut dalam suasana hingar bingar. Dakwah lah dengan panggilan jiwa, sehingga yang Anda lakukan benar- benar bermakna untuk kehidupan umat beragama. Beragama lah dengan memiliki prinsip, jangan asal mau di-doktrin. Sebarkan kebaikan dan kebahagiaan, bukan dengan memaksakan kehendak.

5. Jangan Mudah Digiring Media Abal- Abal dan Hoax
Saya dulu sering berpikir kalau orang- orang yang dengan sengaja haring hoax itu orang yang bodoh. Tapi setelah Saya iseng melakukan riset sharing postingan asli vs hoax, dan ternyata hasilnya konten jujur ini minim respon dan konten hoax bisa di-share sampai ribuan kali. Disini Saya tersadar bahwa banyak orang yang mudah banget dipermainkan dan digiring opini. Sejak kapan trend ini berlangsung? Sudah lama sih dan sampai semakin populer karena oknum itu sadar menggoreng konten hoax itu gampang dan hasilnya benar- benar joss gandoss.

Maka dari itu, jadilah pembaca yang cerdas. Jangan mau menjadi umpan oknum pembuat hoax yang memancing amarah Anda untuk hal yang tidak jelas. Tahan diri untuk sharing berita yang tidak masuk akal, berita yang tidak jelas narasumbernya, terlihat terlalu mengada- ada, terlihat terlalu ajaib, dan dari media yang Anda tidak yakin kredibilitasnya.

6. Jangan Fokus di Kekurangan dan Keburukan
Saya setuju bahwa hal yang buruk harus diperbaiki dan hal yang kurang baik lagi sebaiknya lebih diperbaiki lagi. Tapi.. sayangnya seringkali kita hanya menilai baik buruk ini dari kaca mata kita sendiri. Kita menggunakan pikiran kita untuk menentukan hal ini benar atau salah, tanpa melihatnya dari sudut pandang orang lain. Apalagi kalau soal agama, sesuatu yang menurut Saya ( sekali lagi ) sangat sakral dan tidak boleh dipermainkan. Biarlah orang yang menilai keyakinannya sendiri, jangan kita yang berbeda. Nggak perlu lah bersikap seolah- olah orang yang berbeda keyakinan dengan kita ini adalah makhluk yang najis. Toh sebenarnya kita hidup berdampingan secara langsung dengan mereka di kehidupan bermasyarakat. Betul?

Baca Ini Juga Ya :   Waspadai Teknik Skimming di ATM! Ini yang Bikin Ratusan Juta Uang Nasabah BRI Raib

7. Kerukunan Beragama itu Indah
Bagaimana perasaan Anda ketika Anda mendengar pemuda gereja ikut menjaga masjid di saat sholat Idul Fitri? Atau remaja masjid ikut mengamankan gereja di hari Natal? Terasa lebih damai dan nyes, kan? Jadi, ngapain sih kita masih debat ini dan itu? Sadari lah bahwa setiap orang terlahir berbeda, termasuk dalam hal mindset dan keyakinan. Hidup akan lebih indah ketika kita menyadari ini dan membiarkan orang lain hidup dalam keyakinan mereka. Selama tidak mengganggu umat lain dan tidak berbuat jahat, Saya yakin agama apa pun berhak untuk hidup damai dan tenang dalam masyarakat yang bertoleransi.

8. Ribut- Ribut Soal Agama Lebih Galak di Dunia Maya
Ini yang sering terjadi. Banyak yang menebar provokasi di dunia maya padahal sebenarnya di Indonesia ini banyak masyarakatnya yang hidup damai berdampingan antar agama. Tidak sedikit masjid yang berdiri berdampingan dengan gereja, klenteng atau vihara. Tidak sedikit yang rumahnya bersebelahan berbeda agama. Dan hidup mereka luar biasa rukun. Saling membantu, saling berbagi dan baik komunikasinya. Nggak ada juga yang maksa bilang kamu nanti masuk neraka lho atau kamu nanti akan dibakar dan di…. –terusin sendiri deh.

Bahkan dalam keseharian dan budaya, sudah wajar kalau umat Kristen ikut datang ke rumah warga Muslim ketika lebaran dan sebaliknya ketika hari Raya Natal. Bukan hal aneh juga ketika tetangga kita yang beragama non-Muslim ikut membantu kita dalam kerepotan- kerepotan menyiapkan pengajian atau tahlilan di rumah. Indah kan.. kan… kan??

Jadi? Ya sudah jangan mau diadu domba. Sekali lagi, sadari bahwa setiap orang itu berbeda, baik itu fisik, karakteristik, mindset dan khususnya hal sakral seperti agama. Genggam agama kita sebaik- baiknya dan jalani dengan penuh ketaatan, tapi tidak perlu diunggul- unggulkan di sosial media karena platform ini dihuni oleh multi-agama dan multi-budaya.

 agama,debat agama,gambar kata,sakral

Jagalah perasaan dan hargai keyakinan orang lain. Bayangkan betapa indahnya kerukunan beragama dan kedamaian ketika kita saling bergandeng tangan dalam keberagaman. Ada yang provokasi? Biarin. Jika bisa diingatkan ya diingatkan, kalau tidak ya Anda diam dan abaikan. Ada topik hangat dalam adu domba agama? Anda jangan ikut- ikutan panas. Percaya lah bahwa ikut- ikutan panas hanya memperumit segalanya dan memecah belah umat beragama.

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.