Ketika Anak Kandung Tidak Begitu Peduli pada Sang Ibu

Tidak ada kepedihan yang lebih dalam daripada anak yang tidak peduli pada ibunya sendiri…

ibu,anak kandung,rumah reot

Berkunjung ke rumah ibu angkat…

Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah ibu angkatku. Sebut saja namanya Bu Nani. Bagiku, ia lebih dari sekedar ibu angkat. Ibu angkat hanyalah sebuah label, bagiku ia ibu yang sebenarnya. Sebagian besar memoriku ada bersamanya. Sekelumit kisah manisku di masa kecil adalah miliknya. Bahkan, aku mengingat lebih banyak kenangan manis dengannya daripada dengan ibu kandungku sendiri. Ibu kandungku terlalu sibuk bekerja dan sering memarahiku. Ia terlalu sering berteriak padaku sewaktu aku masih kecil. Ibu kandungku membuat jiwaku terasa kosong.

Barangkali sudah menjadi tradisi untuk berkunjung ke rumah kerabat menjelang #lebaran. Aku sebenarnya ingin berkunjung ke rumah Ibu Nani beberapa kali, tapi karena jarak yang jauh dan waktuku sibuk untuk kerja, menjadikan moment liburan adalah satu- satunya kesempatan emas yang kumiliki.

Tahun kemarin aku mengunjunginya, aku tidak bertemu dengan Ibu Nani karena sedang bertamasya dengan putra- putri dan cucunya. Ibu Nani ini memiliki 8 putra- putri yang semuanya sudah berumah tangga, lima diantaranya merupakan anak perempuan dan tiga lainnya adalah anak lelaki. Sebagian besar dari mereka sudah memiliki rumah masing- masing dan ada juga yang tinggal di luar kota. Tiga putrinya tinggal di kota yang berbeda mengikuti suaminya. Dua putranya juga tinggal di luar kota karena pekerjaan masing- masing. Satu putra dan satu putri tinggal persis di samping dan di belakang rumah dan satu putri lagi tinggal tidak jauh dari rumah Bu Nani yang sederhana.

Satu putri Bu Nani yang tinggal di belakang rumah Bu Nani merupakan si bungsu. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya tinggal di rumah sambil menjualkan baju secara kredit kepada para tetangga. Ia memiliki satu putra. Suaminya bekerja serabutan, namun lebih sering di rumah bermain game playstation di rumah daripada bekerja. Jangan tanya kenapa, aku pun juga tidak paham dan tak mau berburuk sangka.

Baca Ini Juga Ya :   Salut! Demi Bungkus Helm Agar Tak Basah, Juru Parkir ini Rela Hujan- Hujan

Dua tahun yang lalu aku berkunjung ke rumah Bu Nani ternyata Ibu sudah tidak sesehat dulu lagi. Matanya mengalami katarak yang menjadikan penglihatannya banyak terganggu. Selain itu, tubuhnya juga sudah tidak sesehat dulu. Memang usia tidak bisa bohong. Dulu di masa sehatnya beliau adalah juru masak panggilan dari satu tempat ke tempat lain. Tenaganya banyak diforsir selama masa tersebut. Di usia yang masuk ke 80 tahun ini tubuhnya sering sakit- sakitan. Beliau pernah menderita flek paru, setelah sembuh berganti dengan muntah darah, setelah sembuh, penyakit yang lain silih berganti menghantamnya.

Kini yang aku lihat adalah Bu Nani yang menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur. Syarafnya mengalami masalah dan setengah badannya mengalami mati rasa atau lumpuh. Ia sudah melakukan banyak terapi dan sudah sempat sembuh. Tapi tak lama setelah itu, ia kembali mengalami sakit yang sama.

Untuk terapi medis lebih dari 22 juta Beliau habiskan, yang biayanya ditanggung oleh putra no 7 nya. Putranya ini, Mas Randi, memang dikenal sebagai putra tersukses nya. Selain tersukses, ia dikenal juga sebagai yang paling tlaten dalam merawat bu Nani. Sayang ia berdomisili di Jakarta bersama sang istri.

Selama kurang lebih 8 bulan Bu Nani diajak tinggal oleh Mas Randi di Jakarta untuk mengikuti pengobatan. Bersama- sama istrinya, Mas Randi sangat tlaten dalam menjaga ibunya. Keluarga Mas Randi ini dikenal paling disiplin. Mereka selalu bangun pagi tepat sebelum adzan subuh berkumandang. Setelah melakukan sholat subuh, sang istri akan menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga, termasuk kedua putra mereka. Setelah memasak dan menyiapkan sarapan, maka sang istri akan memandikan Bu Nani. Kemudian menyuapinya dan membawanya untuk berjemur di bawah sinar matahari. Benar- benar menantu yang sangat baik hati.

Baca Ini Juga Ya :   Dia Bukan Ayah Tiriku, Dia Benar- Benar Ayahku!

Sang menantu juga membantu Bu Nani untuk membuang air kencingnya yang di plastik karena tak bisa melakukannya sendiri seperti orang yang sehat dan normal. Justru karena saking baiknya ini, Bu Nani merasa pikewuh ( Bahasa Jawa : tidak enak hati, merasa terbebani ). Yah memang seperti ini lah orang asli Jawa, kalau merasa orang lain terlalu baik, dia justru merasa tidak enak hati sendiri, takut menjadi beban, walaupun istri Mas Randi sebenarnya tidak keberatan sama sekali menjaga ibu mertuanya. Setelah selesai 8 bulan terapi, maka Bu Nani pun memutuskan untuk kembali ke kampung.

Di kampung, keadaan berbeda 180 derajat. Putra sulungnya, Mas Rifki, yang tinggal tepat di sebelah rumahnya memang baik hati juga. Tapi ia sering ribut dengan istrinya. Sang istri sering marah- marah karena pekerjaan Mas Rifki yang hanya tukang las tidak dapat mencukupi gaya hidup wah seperti yang ia inginkan. Selain itu, sang istri juga tidak memiliki rasa respek sedikitpun terhadap sang suami atau ibu mertua. Setiap hari bangun siang, tidak memperhatikan anak- anaknya dan sudah beberapa bulan tidak memasak untuk suaminya. Boro- boro untuk melihat mertuanya yang sudah tidak berdaya lagi, ia bahkan sudah lama tidak mau berbicara dengan Bu Nani –entah kenapa, Saya tidak mau berburuk sangka.

Selain itu tentu ada putri bungsunya yang tinggal di belakang rumah. Namun seperti yang bisa ditebak, boro- boro telaten masak dan menyuapi ibunya, bangun pagi pun jarang. Ia tentu setiap hari mengantar nasi dan sayur ke ibunya, tapi ia selalu datang terlalu siang dan hanya menggeletakkannya di meja depan, tanpa ada niat sedikitpun untuk menyuapi sang #ibu atau minimal bertanya apakah sang ibu sudah cukup sehat untuk bergerak duduk dan makan sendiri.

Baca Ini Juga Ya :   Tak Sengaja Bikin Mobil Orang Lecet, Anak 6 Tahun ini Berani Bertanggung Jawab

Hidup memang sebuah ironi. Ketika orang lain terasa lebih baik dari anak sendiri, pedih rasanya, malu, sakit hati, tapi tidak bisa diungkapkan. Kadang Bu Nani merasa ingin kembali ke Jakarta bersama Mas Randi karena memang Mas Randi sendiri yang meminta. Mas Randi pun tahu saudara- saudaranya di kampung tidak bisa menjaga ibunya. Ia juga tahu adik- adiknya adalah anak yang pemalas karena selalu bangun siang dan tidak perhatian pada sang Ibu. Bukan tidak menegur, Mas Randi sudah menegur, tapi tidak ada pengaruhnya. Dan ini sudah terjadi bertahun lamanya.

Jika Bu Nani harus kembali ke Jakarta, beliau sendiri merasa sangat malu dan pikewuh. Rasanya kok keterlaluan punya banyak anak harus ngrusuhi anak mantu. Apalagi anak perempuannya juga dua,  satu tinggal di belakang rumah sendiri dan yang satu tinggal tidak jauh dari rumah tinggal mereka. Meskipun sedih, Bu Nani memaksakan diri. Dia juga tetap shalat dengan sebisanya sambil berdoa pada Tuhan agar dibukakan nurani anak- anaknya untuk bisa lebih menjaganya yang kini sudah di usia renta.

Hatiku merasa terbakar mendengar cerita Bu Nani. Aku juga merasa keterlaluan  karena jarang bisa kesini karena jarak perjalanan yang cukup jauh dan susahnya mendapatkan jatah libur. Tapi melihat keadaan ini, nurani ku menjerit. Aku berjanji untuk lebih sering datang kesini lagi. Mulai sekarang, setidaknya satu hari dalam seminggu aku akan meluangkan waktuku untuk menjaga Bu Nani. Aku akan menjaga malaikat penjagaku waktu kecil ini dengan lebih baik lagi. Aku berjanji, Tuhan.

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.