Kisah Pilu Dibalik Pembuatan Mantel Bulu yang WAJIB Kamu Ketahui

Ada banyak penderitaan yang dirasakan binatang dalam satu mantel bulu

Kisah dibalik pembuatan mantel bulu

Harus diakui, mantel bulu memang bukan barang baru di industri fashion. Banyak desainer ternama, baik local ataupiu luar negeri yang menjadikan bulu binatang sebagai bahan baku untuk produk fashion yang mereka luncurkan. Alasannya sepele, karena bulu binatang bisa membuat tampilan model mereka terlihat lebih fashionable, stylish dan mewah. Meskipun harganya fantastis, tidak sedikit selebriti dan orang berduit yang memilih mentel bulu asli agar bisa menaikkan status sosial mereka.

Meskipun penggunaan bulu binatang sering mendapatk kecaman, namun ternyata sulit menghentikan industri fashion untuk terus menggunakan bulu hewan. Hal ini terjadi karena murni ketidakpedulian, dan karena belum banyak yang tahu kisah pilu dibalik pembuatan satu mantel bulu saja.

Untuk kamu yang belum tahu, berikut ini adalah rangkuman cerita tentang bagaimana binatang diperlakukan sebelum akhirnya harus meregang nyawa

1. Binatang apa saja dan berapa jumlah yang dibutuhkan untuk memproduksi satu mantel?
Tupai
Untuk membuat mantel bulu, ada banyak jenis binatang yang bisa digunakan. Mulai dari cerpelai, poosum, kelinci, tupai, rubah, lynx, musang, serigala, rakun, berang- berang, hingga anjing dan kucing.

Seperti dilansir dari Peta, ada 1 miliar kelinci per tahun yang dibunuh agar permintaan mantel bulu bisa dipenuhi, lebih dari 50 miliar cerpelai, serta 2 miliar kucing, dan anjing.

Lalu, berapa jumlah hewan yang dibutuhkan untuk membuat satu mantel? Dikutip dari respectfloranimals.org dan animalsaustralia.org, jumlah binatang yang dibutuhkan untuk bisa memproduksi satu mantel tergantung dari ukuran binatang itu sendiri. Sebagai gambarannya, setidaknya dibutuhkan 30-40 rakun untuk satu mantel, 60-70 musang kecil, 200-400 tupai, 15-20 anjing atau kucing, 8-12 lynx, 10-16 berang- berang, 30-40 kelinci, 10-20 rubah, 30-70 cerpelai, 30-40 kelinci, 6-12 seal, dan masih banyak lagi.

Baca Ini Juga Ya :   Hati- hati! 8 Makanan Ini Bisa Beracun Kalau Dipanaskan Kembali

Untuk pembuatan mantel ini, biasanya cerpelai akan dibantai saat usianya baru menginjak 5 bulan, sedangkan rubah di usia 9 bulan, dan seal saat berada di rentang usia 12 hari hingga 12 bulan.

Usai dikuliti, bulu- bulu hewan malang ini akan diberi bahan kimi beracun agar tetap awet dan tidak busuk saat disimpan di lemari pakaian.

2. Banyak binatang yang diburu dan diambil dari alam liar
Bulu binatang
furfreealliance.com mengungkap bahwa untuk menangkap binatang- binatang yang akan dibuat mantel bulu, mereka akan memasang jebakan khusus. Mulai dari leg hold traps (jebakan kaki), drowning sets (jebakan pemberat yang dapat menenggelamkan hewan), conibear traps (jebakan yang meremeukkan tulang leher), trapping risks, dan masih banyak lagi.

Jebakan ini biasanya akan mengenai kaki atau bagian tubuh dari binatang. Tujuannya bukan untuk membunuh secara langsung, namun melukai. Binatang yang terjebak nantinya akan didiamkan beberapa hari tanpa makan dan minum, dan akan menghadapi ancaman dari predator lain. Dalam rentang waktu 1-14 hari, pemburu baru akan mengecek perangkap yang mereka buat.

Banyak binatang yang mencoba berbagai cara agar bisa meloloskan diri dari jebakan itu. Mereka biasanya menggigit perangkap hingga gigi mereka terlepas, mematahkan tulang mereka sendiri, hingga memutilasi bagian tubuh mereka yang terjepit agar terbebas. Pada akhirnya, banyak binatang yang mati karena shock, hypothermia, kelaparan, dan juga kehabisan darah.

3. Sebanyak 85 persen bahan baku bulu binatang diambil dari fur farm, peternakan yang khusus menangkarkan hewan- hewan yang akan diambil bulunya
Jaket dari bulu binatang asli
Industri fashion mendapatkan bulu binatang bukan hanya dari perburuan liar lho. Data dari Peta menunjukkan fakta mengerikan kalau bahan baku bulu binatang 85 persen didapat dari fur farm. Peternakan bulu ini tersebar di beberapa negara, seperti Tiongkok, Belanda, Denmark, Spanyol, Polandia, Finlandia, Rusia, dan Amerika. Demi memenuhi kebutuhan pasar, hewan liar seperti rubah, cerpela, dan musang pun diternakkan.

Baca Ini Juga Ya :   Aneh Tapi Nyata! Tren Pakai Bra Terbalik Agar Payudara Terlihat Makin Berisi

Meski diternakkan, jangan bayangkan kalau nasib hewan- hewan itu lebih beruntung dibandingkan dengan mereka yang dibunuh di alam liar ya. Mereka akan dipelihara dalam kurun waktu 6-10 tahun, dan ditempatkan di kendang yang tidak lebih besar dari tubuh mereka. Tumbuh di kendang kecil dan bercampur dengan kotoran membuat mereka tinggal dengan sanitasi yang sangat buruk.

Akibatnya, banyak binatang yang stress, agresif, bersikap kanibal dengan memakan sesamanya, terserang penyakit karena system imun yang semakin menurun (tanpa ada vaksin), hingga ada diantara mereka yang memilih untuk memutilasi diri mereka sendiri.

Perlakuan yang luar biasa buruk ini membuat banyak hewan mengalami buta, tuli, mandul, dan cacat. Perlakuan buruk di furm farm juga bukan sebatas ukuran kendang yang sempit saja, tapi juga penempatan kendang terbuka dimana mereka langsung terpapar panas menyengat, sekaligus udara dingin ynag menusuk tulang.

4. Cara pembunuhan hewan yang sangat mengerikan, disetrum hingga dikuliti hidup- hidup
Binatang yang akan dibuat mantel bulu akan mengalami proses eksekusi mati yang sangat sadis.
Jaket bulu binatang
Beberapa cara yang kerap digunakan adalah diracun dengan gas monoksida dan karbon dioksida, disetrum, hingga dihancurkan tulang lehernya. Rangkaian metode ini sengaja dilakukan agar binatang yang mati tetap dalam kondisi tubuh dan bulu yang ‘sempurna’.

Cara kematian seperti ini diklaim sebagai yang terbaik karena hewan tidak merasakan sakit. Namun kenyataannya, banyak binatang yang hanya lemas saat dibunuh dengan gas beracun. Pada akhirnya, mereka akan dikuliti dalam kondisi hidup- hidup. Pernah nggak sih kamu bayangin gimana sakitnya saat kulit dipisahkan secara paksa dari tubuh sendiri?

Baca Ini Juga Ya :   Bukti Kalau Make Up itu Ngefek Banget, Foto Before-After 10 Cewek Ini Bikin Kamu Takjub Abis!

Cara yang nggak kalah kejamnya adalah mengeksekusi binatang dengan aliran listrik yang menyakitkan dan dianggap sebagai salah satu bentuk kekejaman terhadap binatang. Alat penjepit dipasangkan ke mulut binatang, sementara batang logam akan dimasukkan di bagian anus sehingga listri akan mengaliri tubuh binatang dengan merata. Baru bayangin saja sudah merinding, ya? Hhhhhhh…..

5. Yang sering dilupakan, binatang juga punya hak hidup sama seperti manusia. Apakah pantas kita menyiksa binatang hanya demi kepuasan fashion semata?
Kisah dibalik pembuatan mantel bulu
Penggunaan bulu hewan sudah pasti bukan kebutuhan primer dalam dunia fashion. Lantas, mengapa penggunaan bulu hewan begitu popular? Apakah alasannya karena udara dingin? Padahal ada banyak bahan sintetis lain yang bisa digunakan sebagai bahan pengganti.

Atau alasannya demi terlihat wah? Faktanya, desainer papan atas dunia seperti Todd Oldham, Giorgio Armani, Stella McCartney, Calvin Klein, Tommy Hilfiger, dan Vivienne Westwood, sudah mulai berkata tidak pada bahan baku bulu hewan. Dan terbukti bahwa produk mereka tetap fashionable dan laku keras.

Cobalah tanyakan pada diri sendiri, apakah kepuasan kita dengan fashion bulu hewan setara dengan penderitaan yang mereka alami? Last but not least, saat kamu masih menggunakan produk berbahan dasar bulu binatang, maka kamu juga ikut berkontribusi ke dalam rantai kekejaman terhadap binatang.

Komentar

komentar