Nggak Perlu Nyinyir dengan Gaji Orang Lain, Syukuri Gaji Kita

Daripada nyinyir, mending belajar mengontrol pengeluaran

iri,nyinyir,gaji

Hidup itu wang sinawang. Artinya, yang kelihatan sedemikian bagus dan sempurna di mata kita, belum tentu keadaan sebenarnya sedemikian rupa. Kita sering berpikir kehidupan si A enak, gajinya besar, punya ini dan itu. Tapi ternyata di luar yang kita bayangkan, si A sering stress karena tidak punya waktu untuk keluarga dan menanggung hutang yang besar. Sering kepikiran ini?

Kita sering berpikir betapa enaknya punya penghasilan yang besar. Padahal, gaji berapa pun sebenarnya tidak akan pernah cukup kalau kita tidak bisa mengontrol keinginan kita. Kita harus bisa membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Keinginan dan kebutuhan harus disesuaikan dengan cashflow kita. Kalau tidak, yaaaa…. siap- siap hidup kita gitu- gitu aja.

Coba lihat beberapa study case yang dilansir dari Detik ini :
Kasus 1
Seorang ibu berpendapatan Rp 1,4 juta per bulan, suaminya Rp 7 juta per bulan, dengan 2 orang anak, cukup untuk hidup : zakat, infaq, sedekah, biaya hidup lainnya dan berinvestasi untuk : dana darurat, asuransi jiwa, dana pendidikan 2 anak dari SD hingga Perguruan Tinggi, dana haji, dana pensiun, renovasi rumah, beli motor baru, pernikahan anak, dan liburan tiap tahun.

Baca Ini Juga Ya :   16 Jurusan ini Punya Gaji Pertama Paling Tinggi di Dunia

Kasus 2
“Hei, ini lho di Solo, 3 tahunan yang lalu seorang ibu berkonsultasi bagaimana mengatur Rp 100 ribu untuk seminggu, terdiri dari pemenuhan makan tidak termasuk beras, kas pengajian dan cicilan, kita bantu manajemen cukup kok.”

Kasus 3
Pasangan suami istri dengan pendapatan rata-rata, Rp 2,4 juta per bulan, 2 anak. Pasangan ini menginginkan beberapa tujuan keuangan, dan yang dapat kami bantu hitung adalah pemenuhan : investasi dana darurat, asuransi jiwa, uang masuk sekolah 2 orang anak dari pra sekolah sampai Perguruan Tinggi, dana haji, dana pensiun dan dana pembelian mobil, selain tentunya sudah dialokasikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Kasus 4
Pasangan suami istri berpendapatan Rp 8 juta per bulan, memiliki satu orang anak, batal membuat perencanaan keuangan, karena sang istri syok mengetahui suami punya cicilan utang untuk biaya pernikahan mereka beberapa tahun yang lalu, serta cicilan pinjaman dengan agunan rumah orang tua. Yang bikin istri kaget adalah, mengetahui semua itu saat berkonsultasi pada sesi wawancara dengan financial planner. Padahal pernikahan itu sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Ironis. Dan masih banyak kasus-kasus lain dengan pendapatan tidak sampai puluhan juta.

Baca Ini Juga Ya :   Perempuan Harus Tahu Ini: 4 Cara Lumpuhkan Pria yang Melecehkanmu dalam 1 Menit

Itu sih baru sampel dari empat kasus saja. Kalau mau diteliti lebih lanjut, tentu akan ada lebih banyak kasus yang beragam tentang pengelolaan uang ini. Ada yang gajinya sedikit, tapi bisa menabung dan memenuhi banyak kebutuhan. Tapi ada juga yang gajinya puluhan juta, tapi mengaku selalu kehabisan uang di penghujung bulan. Familiar?

Jadi intinya, semua kembali ke diri sendiri. Sudahkah kita mensyukuri berapapun gaji kita? Sudahkah kita pintar mengontrol keuangan kita? Sudahkah kita mengajari diri sendiri untuk membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan? Sudahkah kita menabung untuk masa depan?

Jika jawabannya tidak dan kita tidak berusaha untuk memperbaiki keuangan kita, maka berapapun gaji kita tidak akan pernah cukup. Mungkin kita akan terus- terusan menjadi kaum nyinyir saat beberapa teman mampu membeli benda impian yang sudah lama ia butuhkan, “yaahhh dia kan gajinya gedhe” atau “dia kan single, wajar aja kebeli” atau lebih  parah lagi “anak orang kaya mah gampang. Orang tuanya juga paling bantuin beli”.

Baca Ini Juga Ya :   Kamu Super Sensitif? Ini Dia 4 Jenis Pekerjaan Terbaik untuk Kamu

Dari sekarang, yuk stop nyinyirin orang lain, apalagi soal gaji dan pekerjaan. Daripada sibuk nyinyir, mending fokus memperbaiki diri dan banyak- banyak bersyukur. Yakin deh, ini jauh lebih baik dan sehat untuk mental dan pikiran kita. Setuju?

Komentar

komentar