Pak Guru Idrus, Mengajar tiga kelas secara bersamaan, menempuh jarak 12 km setiap hari demi mengajar

perjuangan guru di SD terpencil

pak guru idrus,pak guru,idrus,mengajar

Ada banyak cerita mengharukan dibalik perjuangan seorang guru. Mulai dari nasib yang tidak jelas, gaji yang kurang layak dan bahkan perjuangan yang sangat berat hanya agar bisa mengajar.

Salah satu cerita tentang perjuangan mengajar ini dihadapi oleh Pak Guru Idrus yang mengajar di sekolah terpenci, SD Sabura 156 Desa Sabura, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Setiap harinya, agar ia bisa mengajar, ia harus menyeberangi sungai sejauh 12 kilometer. Kondisi akan terasa lebih buruk saat musim hujan datang karena kondisi jalan menjadi licin dan becek sehingga tidak layak untuk dilalui oleh kendaraan roda dua seperti motor. Jika ini terjadi, maka Pak Guru Idrus pun dengan terpaksa harus berjalan kaki ke sekolah. Berjalan kaki sejauh 12 kilometer? Ya, begitulah perjuangan beliau.

Di sekolah ini, siswa siswi yang kebanyakan berlokasi jauh dari sekolah juga harus berangkat pagi sekitar pukul 06.00-07.00 WITA agar bisa tiba di sekolah lebih awal. Di sekolah ini, kegiatan belajar mengajar dimulai pada pukul 08.00 WITA.

Baca Ini Juga Ya :   Perjuangan Meraih Sarjana Sekaligus Menghidupi Seluruh Keluarga

SD 156 Sabura ini memang merupakan salah satu sekolah miskin sarana dan prasarana. Selain ruangan kelas yang sangat terbatas, ruangan ini juga tidak memiliki fasilitas pendukung lain seperti perpustakaan.

Sekolah ini hanya mempunyai dua ruangan untuk belajar. Untuk memaksimalkan aktifitas belajar mengajar, ruangan kelas di SD ini dibuat menjadi 3 sekat. Ruangan pertama dibagi  untuk kelas 1, 2 dan 3, dan ruangan kedua dibagi untuk kelas 4, 5 dan 6. Masing- masing kelas diberi sekat- sekat kayu agar siswa- siswa dapat berkosentrasi dengan lebih  baik.

Selain menghadapi kondisi alam dan fasilitas yang kurang bersahabat, sekolah ini juga menghadapi masalah minimnya tenaga guru. Ini lah yang membuat Pak Guru Idrus harus menghadapi tiga kelas dalam waktu yang bersamaan. Di sekolah dasar ini sendiri, jumlah guru tercatat hanya berjumlah tiga, termasuk seorang kepala sekolah dan seorang guru honorer, sejak empat tahun yang lalu.

Karena jumlah tenaga pengajar yang sangat minim, maka jika salah seorang guru di sekolah sakit atau berhalangan hadir, maka guru yang lain harus bekerja sekuat tenaga agar dapat mengajar secara berkesinambungan di enam kelas yang berbeda.

Baca Ini Juga Ya :   Sering Nggak Disadari, Ini Dia 6 Kesalahan Paling Sering Orang Indonesia Saat Bicara Bahasa Inggris

Pak Guru Idrus sendiri sudah terbiasa untuk mengajar secara marathon Saat ia harus mengajar di kelas IV, maka dua kelas lainnya, yaitu kelas V dan VI akan diberi tugas membaca atau mengerjakan tugas apa saja sambil menunggu giliran mendapatkan materi pelajaran baru. Setelah itu, ia akan bergantian melakukan hal yang sama ke kelas V dan kelas VI.

Pekerjaan Pak Guru Idrus akan relatif lebih ringan saat kepala sekolah dan guru honorer lainnya hadir karena ia hanya akan membagi tenaganya untuk tiga kelas berbeda di jam yang bersamaan.

“Setiap hari itu nyaris tak punya waktu istirahat selama jam pelajaran berlangsung,” tutur Idrus.
Berbeda dengan sekolah lain, di SD ini, siswa bebas berpakakaian apa saja. Hal ini dilakukan agar anak- anak bisa lebih bersemangat datang ke sekolah tanpa terbebani peraturan seragam yang memang belum seutuhnya bisa mereka penuhi.

Baca Ini Juga Ya :   Salut! Demi Bungkus Helm Agar Tak Basah, Juru Parkir ini Rela Hujan- Hujan

Bagi guru di sekolah ini sendiri, membangun semangat bersekolah dan menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyyaman untuk para siswa jauh lebih penting daripada berbicara mengenai aturan berpakaian. Setidaknya ini adalah salah satu cara untuk mencegah anak- anak ini putus sekolah.

“Siswa boleh pakai sandal, pakaiannya boleh seragam ata tidak intinya yang penting mereka mau datang ke sekolah,” tutur Idrus.

Sekolah ini sebenarnya sudah lama mengajukan permintaan tambahan guru agar mereka bisa berkonsentrasi mengajar hanya dua kelas dalam setiap kali mengajar. Sayangnya, permintaan ini masih belum menemui titik temu hingga saat ini.

Meskipun memang tidak mudah, Pak Guru Idrus tetap berusaha menikmati situasi tempatnya mengajar selama beberapa tahun terakhir  ditempatkan di SD terpencil ini. Ia berharap suatu saat nanti sekolah ini akan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah sehingga dapat memiliki fasilitas yang lebih layak dan juga tenaga pendidik yang cukup.

 

Komentar

komentar