Pernikahan Tidak Membuat Hidup Wanita Lebih Bahagia? Benarkah Seperti itu?

Menurut study, pernikahan lebih membahagiakan pria daripada wanita

menikah,wanita,bahagia

Banyak wanita yang berharap pernikahannya menjadi hidup baru yang lebih membahagiakan seperti yang mereka lihat di film- film romantis. Namun, benarkah pernikahan benar- benar mendatangkan kebahagiaan untuk wanita seperti di film romantis tersebut?

Ada sebuah program bernama Post Secret dimana program ini bertujuan untuk mengumpulkan pendapat pribadi yang dituliskan respondent dalam sebuah kartu mengenai kehidupan sejumlah peserta. Program ini mengamil informasi dari responden yang sebagian besar telah menikah.

[ Baca Ini Juga Ya : Duhhh… Tinggal Bersama Mertua Ternyata Beresiko Merusak Kesehatan Wanita ]

Salah satu kartu dari respondent menceritakan bahwa sejak ia dan pasangannya menikah, mereka akhirnya membeli rumah, namun keduanya tidak lagi tertawa bersama seperti sebelumnya. Respon ini pernah diungkapkan oleh Lisa Wade, Ph.D, yang merupakan seorang professor di Occidental College, sekaligus penulis American Hookup.

Menurut Wade, dalam kartu- kartu yang diterimanya, banyak sekali wanita #menikah yang mengeluh hidupnya tidak begitu bahagia semenjak menikah. Banyak wanita yang mengeluh tidak bisa menikmati hidupnya lagi. Menurut Wade, kondisi tersebut disebut dengan paradox penurunan kebahagiaan pada hidup wanita.

Selama bertahun- tahun, gerakan emansipasi wanita memang telah disuarakan agar wanita memiliki kebebasan dalam berkarir, bersuara dan beropini. Sayangnya, kebebasan wanita di era modern ini masih tidak sepenuhnya bisa wanita nikmati usai resmi menikah.

[ Baca Ini Juga Ya : 6 Hal Ini Wajib Kamu Lakukan Sebelum Menikah, Jangan Sampai Nggak, Kamu Nanti Akan Menyesalinya ]

Wade juga menyatakan bahwa pernikahan antara pria dan wanita tidak memberikan kebebasan yang setara dalam peran suami dan istri. Dalam hal ini, wanita sering berada di pihak yang paling tidak bisa menikmati kebahagiaan karena suami jarang memberikan pujian dan menghargai pekerjaan istri dalam melakukan pekerjaan rumah tangga.

Selain itu, suami yang hanya sibuk bekerja di luar sering menjadikan istri sebagai sosok yang harus mengerjakan segalanya di rumah. Banyak istri kemudian merasa terbebani dan tidak bisa lagi melakukan hal- hal yang ia sukai.

“Kondisi itu membuat istri merasa tidak bahagia dan bosan,” ungkap Wade.

Belum lagi jika istri juga harus bekerja di kantor, dan masih harus melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Istri akan lebih mudah jenuh dan bosan sehingga timbul pertanyaan pada istri mengapa mereka harus melakukan semuanya sendiri?

Dari perasaan jenuh dan bosan ini, kemudian timbul rasa iri dan rendah diri saat perempuan menikah melihat sesama teman wanitanya yang masih melajang, tapi bisa menikmati hidupnya dengan lebih bahagia dan mandiri.

[ Baca Ini Juga Ya : Wanita yang kamu bilang pemalas dan cuma bisa dandan ini, suatu saat bisa jadi Ibu yang hebat untuk anak- anakmu ]

“Tak sedikit pernikahan yang hanya membuahkan rasa bahagia pada suami ketimbang istri. Seiring waktu, perasaan tidak bahagia berujung perceraian,” pungkasnya.

Dari hasil study yang dilakukan oleh Wade ini, saat pernikahan berujung pada perceraian, pria punya kecenderungan yang besar untuk menikah kembali. Sebaliknya, kebanyakan wanita memilih sendiri dan tidak menikah untuk kedua kalinya.

Komentar

komentar