Situs Hoax di Indonesia Bisa Kantongi sampai 700 Juta, Kamu Dapat Apa?

jangan mau dibodohi situs hoax

situs hoax,hoax,berita hoax

Pintar menyaring informasi penting di era medsos seperti ini. Jangan mudah terprovokasi karena tidak semua berita yang kit abaca mengandung kebenaran. Buktinya, situs hoax di Indonesia jumlahnya tidak sedikit. Dari keasyikan kamu share berita hoax sana sini, semakin banyak yang dibodohi. Padahal di belakan layar, si pembuat berita sedang tertawa dan semakin kaya raya. Miris banget kan?

Akibat saking banyaknya berita hoax yang semakin mudah viral, kadang masyarakat sulit juga membedakan antara fakta dan hoax. Sedih memang ya saat kita tahu berita hoax mendapatkan lebih banyak perhatian dan share daripada berita yang berisi fakta dan menjunjung etika.

[ Baca Ini Juga Ya : ANEH TAPI NYATA! 11 Ramalan The Simpsons Ini Sudah Menjadi Kenyataan! ]

Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia beberapa waktu lalu berhasil mengidentifikasi dua situs yang berperan paling aktif dalam menyebarkan berita hoax dan provokatif. Inisiator komunitas ini, Septiaji Eko Nugroho, bahkan terang- terangan menyebutkan dua nama situs yang paling getol menebar hoax, yaitu pos-metro. Com dan nusanews. Com.

Menurut temuan komunitas tersebut, setidaknya ada dua mahasiswa asal Sumatera yang diketahui sebagai pihak pembuat portal berita hoax ini. Saat ini kedua situs ini memang sudah berhasil diblokir Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika ) sehingga tidak lagi bisa diakses. Sayangnya, situs hoax serupa juga berpotensi muncul lagi dan lagi. Sulit untuk dihentikan.

Kalau dirunut lebih jauh, sebenarnya apa sih motif atau tujuan dari si pembuat berita hoax ini? Hmmm.. ternyata nggak jauh- jauh dari urusan kantong. Menurut Septiaji, bukan rahasia lagi bahwa penyebaran berita hoax di internet ini adalah lading subur untuk menghasilkan uang. Bahkan tidak sedikit PNS yang juga ikut- ikutan mencari nafkan dengan menyebarkan berita bohong ini.

[ Baca Ini Juga Ya : 10 Cara Keren Miliarder Dunia Menghabiskan Uang Mereka ]

“Ada yang tadinya PNS, kemudian keluar dari PNS karena fokus mengelola situs penyebar kebencian seperti itu,” kata Septiaji Eko Nugroho seperti dikutip dari Jumat (2/12/2016).

Bisa Dapat RP 600 juta –  Rp 700 juta Hanya dari Situs Hoax
Seperti yang disebutkan sebelumnya, situs hoax ini lading yang sangat subur untuk mendaptkan penghasilan instant. Bukan sekedar belasan atau puluhan juta, tapi ratusan juta per tahun! Fantastis banget ya?

“Itu estimasi, bisa lebih, bisa kurang. Tim kami menganalisis dari trafik dan potensi iklan yang didapat dari AdSense,” kata Septiaji.

Cara kerjanya pun sangat mudah. Kebanyakan berita hoax ini memuat konten sensasional tanpa adanya verifikasi. Konten ini kemudian di-share di media sosial dengan judul yang memancing ( click bait ) yang akhirnya berujung viral dan mendatangkan banyak trafik dan klik di website hoax tersebut.

Menurut Septiaji, memang tidak mudah membabat habis situs hoax ini karena berpotensi hilang satu tumbuh lagi dan lagi. Setiaji pun berharap fenomena penyebaran berita hoax ini bisa segera ditindak tegas oleh pemerintah dan memberikan efek jera. Septiaji dan komunitasnya saat ini hanya bisa berupaya mengawasi dan saling berbagi informasi terkait pergerakan para penyebar berita hoax ini.

“Kami berbasis kekuatan komunitas. Kami menggalang netizen yang peduli dengan pentingnya media sosial yang positif. Untuk jangka pendek, kami akan mulai memperkuat jaringan antar-relawan anti-hoax, antar-grup anti-hoax, sharing resource, dan memperbanyak sinergi,” ia menjelaskan.

[ Baca Ini Juga Ya : Kenapa sih Google Tidak Suka Merekrut Lulusan Perguruan Tinggi Top? Ternyata Ini Alasannya…. ]

Rencana selanjutnya, Septiaji akan mendekati para tokoh budaya, ustadz, ulama, totkoh pendidikan, serta tokoh profesi yang mempunyai pengaruh baik di media sosial dan dunia offline.  Hal ini bertujuan agar tokoh- tokoh tesebut bisa ikut mengkampanyekan media sosial dengan tepat dan bijak, sehingga bisa menekan jumlah fitnah dan hoax yang bertentangan dengan budaya, etika dan agama.

 

Komentar

komentar