Menurut Survey UI, Perokok Akan Insyaf Jika Harga Rokok Rp 70.000 per Bungkus

Rokok salah satu faktor penyebab kemiskinan

Perokok di Indonesia

Tahun lalu sempat heboh issue yang menyatakan bahwa harga rokok akan naik menjadi Rp 50.000. Issue tersebut kemudian tenggelam karena memang akhirnya tidak terbukti kebenarannya.

Padahal terbukti sudah bahwa rokok lebih banyak membawa mudharat dibandingkan manfaat. Tidak sedikit juga orang yang mengalami gangguan kesehatan meskipun dirinya adalah perokok pasif. Hal ini adalah akibat dari ketidakpedulian para perokok yang suka menghembuskan rokoknya di ruang publik atau di rumah, dekat dengan anggota keluarga yang tidak merokok.

Komnas PKIS-UI (Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia) baru- baru ini merilis hasil survey terkait dukungan publik terhadap kenaikan harga rokok. Survey ini mengungkap bahwa sebagian besar responden yang merupakan perokok, mantan perokok, dan bukan perokok mendukung adanya kenaikan harga rokok.

Baca Ini Juga Ya :   Mengaku Miskin dan Kelaparan, Pengemis Ini Smartphone nya iPhone 5S dan Galaxy Note 3

“Dukungan harga rokok mahal ternyata tidak hanya muncul dari masyarakat non-perokok, tetapi juga dari para perokok itu sendiri. Hal ini dibuktikan dalam hasil survei yang dilakukan PKJS-UI selama Mei 2018 pada 1.000 responden,” ungkap Renny Nurhasanah, anggota Tim Peneliti PKJS-UI, di Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Renny juga menambahkan bahwa 88 persen responden akan memberikan dukungannya untuk kenaikan harga rokok. Kenaikan harga menjadi Rp 60.000 dan Rp 70.000 per bungkus diyakini akan membuat banyak perokok berhenti.

“Sebanyak 66 persen dari 404 responden perokok akan berhenti membeli rokok apabila harga rokok naik menjadi Rp 60.000 per bungkus dan sebanyak 74 persen dari 404 responden perokok mengatakan akan berhenti merokok apabila harga rokok naik menjadi Rp 70.000 per bungkus,” ungkapnya.

Baca Ini Juga Ya :   Menabung Recehan 5 Tahun, Pasangan ini Kaget dengan Jumlahnya

Bukan hanya soal kenaikan harga rokok, survey yang dilakukan PKJS-UI juga mengungkap adanya kecenderungan perokok aktif mempunyai penghasilan keluarga kurang dari Rp 2,9 juta sebesar 44,61 persen dan Rp 3 juta sampai Rp 6,9 juta sebesar 41,88 persen.

Persentasi ini lebih tinggi dibandingkan responden yang mempunyai penghasilan keluarga kurang dari Rp 7 juta dengan persentase hanya sebesar 30,91 persen.

Hasil ini sekaligus juga mengungkap bahwa keluarga berpendapatan dan berpendidikan rendah justru cenderung merokok. Tidak heran, BPS pun menyimpulkan bahwa rokok juga menjadi salah satu faktor penyumbang kemiskinan di Indonesia.

 

Komentar

komentar