Untuk Calon Istriku, Bila Dia Bukan Perawan

Untuk keperawanan yang menjadi perdebatan

Wanita cantik

Keperawanan memang dikenal sebagai ‘harta’ yang sakral dari seorang perempuan. Membicarakan keperawanan sampai saat ini masih menjadi hal yang taboo untuk dibahas. Bagi wanita, hal ini adalah hal yang penting untuk dijaga.

Namun bagaimana jika karena satu dan lain hal seorang perempuan akhirnya tidak lagi perawan? Pantaskah dia dicampakkan atau dikucilkan karena kesalahan yang ia perbuat? Bagaimana jika ia sudah berniat bertaubat dan meminta ampun akan kesalahannya ini? Akan kah kita mengampuninya? Atau tidak?

Sebuah surat tentang keperawanan ini sempat viral di media sosial dan mengundang pro dan kontra. Baca lah dan sampaikan bagaimana pendapatmu tentang hal ini …

Baca Ini Juga Ya :   Bikin Mewek.. Ini Lho 17 Tanda Kasih Sayang Ibu yang Jarang Kamu Sadari

 

Perempuanku, apa kabar? Semoga baik. Aku juga sama, baik. Sekarang kamu sama siapa? Pacarmu? Mantanmu? Atau mungkin suamimu?

Aku sedang duduk di halaman rumah, ditemani kopi yang dingin, yang kelak diseduhkan tanganmu.

Perempuanku, berdamaikah kamu dengan Tuhan? Atau masih mencari alasan dan waktu yang tepat untuk berdamai? Aku pun sama, masih mencoba dan berusaha.

 

Adakah baik beragamamu, atau belum, aku tak mengapa. Bila kelak saat bertemu kita belum baik, mari belajar bersama. Aku percaya, setiap manusia memiliki celah untuk salah, jadi jangan malu, kita saling perbaiki.

 

Perempuanku, adakah kamu masih menjaga sucimu? Atau pernah ternoda? Halal haram hubungan lalumu, jelas bukan hakku untuk tahu.

 

Hanya saja, bila kesucian gagal kamu jaga, sangat tak apa. Selama kamu mampu mencintaiku seutuhnya, sungguh tak apa. Tiap manusia memiliki titik tersalah dalam hidupnya.

 

Aku juga, kamu juga.

 

HARUSNYA CINTA MAMPU MENERIMA, BUKAN?

 

Dan aku yakin, hati tak ada bekasnya, selalu murni, tak terpengaruhi hal-hal ragawi. Sebagai laki-laki, tentu aku ingin utuhmu lahir batin, tapi aku sadar, aku pun tak utuh, tak sebaik itu. Dan sebagai manusia, Aku ingin diterima selapang aku menerima.

 

Perempuanku, adakah aku pantas buatmu? Atau tidak?

 

Aku tak pernah tahu.

 

Banyak lubang yang kujalani saat mencarimu. Banyak luka yang kudapati saat menujumu.

 

Kini, aku tengah membenahi, memantaskan diri untuk bisa kamu miliki.

 

Semoga tepat waktu.

 

[Bagaimana menurutmu?

Komentar

komentar