Type to search

Inspiratif

Herayati, Anak Pengayuh Becak “Cum Laude” ITB Dilamar Jadi Dosen di Untirta

Herayati, Anak Pengayuh Becak “Cum Laude” ITB Dilamar Jadi Dosen di Untirta

Keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk meraih cita- cita tertinggi. Klise memang kedengarannya, namun masih banyak yang menggunakan kalimat ini untuk menguatkan tekad mereka saat meraih mimpi.

Salah satunya adalah Herayati, lulusan sarjana dari Program Studi Kimia FMIPA ITB dengan IPK 3,77 dan meraih predikat cum laude. Heryati juga menjalani program fast track ITB yang merupakan lanjutan S1 ke S2 yang bisa diselesaikan dalam waktu lima tahun.

Latar Belakang Ekonomi Keluarga Bukan Alasan untuk Menyerah

Latar belakang Hera, sapaan akrabnya, berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak, sedangkan sang ibu adalah ibu rumah tangga biasa. Penghasilan orangtua Herayati tidak menentu setiap harinya.

Ekonomi keluarga yang pas- pasan tidak membuat Hera mengurungkan mimpinya. Terlebih Hera sudah punya keinginan masuk ITB sejak duduk di bangku SMP. Ia pernah mengikuti jalur seleksi SNMPTN, namun gagal. Tidak menyerah, ia kembali mencoba seleksi lewat jalur SBMPTN, dan akhirnya diterima.

Saat itu salah seorang gurunya menceritakan ada alumni MTs yang berkuliah di ITB dengan beasiswa. Ia pun ingin kuliah dengan bermodalkan beasiswa agar tidak merepotkan orangtua. Sejak saat itu, ia punya tekad kuat untuk bisa masuk ke ITB.

“Saya emang udah punya keinginan masuk ITB sejak kelas 9 MTS, di MTs Negeri Pulomerak waktu itu saya sekolah,” kata Hera.

“Waktu masuk MAN, saya mulai merintis perjuangan, mulai belajar buat tes masuk ITB. Kelas 10 dan 11 saya belajar otodidak, sendiri, ya paling di sekolah ya dibimbing sama guru saja, tapi kalau di rumah saya sendiri, ga ikut bimbel,” ujarnya.

Menginjak kelas 12, Hera mengikuti try out yang diadakan Debus ITB yang merupakan Unit Kebudayaan Banten di ITB. Karena mendapat nilai tertinggi keempat dari seluruh peserta tes, Hera mendapatkan beasiswa bimbel di salah satu lembaga bimbel.

Menurutnya, tanpa beasiswa ini, ia mungkin tak akan pernah menikmati bimbel karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

Dukungan Orangtua Menjadi Motivasi Terbesar

Sejak duduk di kelas 9, Hera sudah meminta restu orangtuanya untuk kuliah di ITB.

“Alhamdulillah saya punya orangtua yang mendukung banget. Jadi walaupun saya melihat kekhawatiran soal biaya bagi mereka, tapi mereka ga pernah bilang jangan. Jadi selalu mendukung apa yang saya mau ambil keputusannya,” ujarnya.

Hera kemudian menempuh pendidikan sarjana di ITB dengan beasiswa Bidik Misi. Bukan hanya menjadi mahasiswa ITB, perempuan kelahiran Cilegon, Banten, ini juga menjadi delegasi Indonesia dalam acara Asia Pasific Future Leader Conference pada 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Keren ya?
Hera juga masih berpendapat bahwa motivasi terbesarnya tetaplah orangtua.
“Motivasi berprestasi di ITB orangtua. Karena kan saya kuliah jauh, jadi ya sudah seharusnya saya melakukan yang terbaik di sana,” kata dia

Baca Ini Juga Ya :   Viral! Demi Beli Membership Game Online, Anak Bos Asuransi ini Rela Jadi OB

Dilamar Menjadi Dosen di Untirta

Prestasi membanggakan Hera tidak berhenti sampai disitu. Usai lulus dengan predikat cum laude, Herayati mendapat tawaran untuk menjadi  dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten. Baginya, tawaran ini adalah sebuah mimpi yang menjadi nyata.

Di 2018 silam, nama Hera memang sempat menjadi pemberitaan lantaran kisahnya sebagai anak pengayuh becak berprestasi di ITB diangkat oleh media. Saat ditanya apa cita- citanya, Hera mengungkapkan bahwa dirinya ingin menjadi seorang dosen. Inilah awal mula perjalanan Hera menggapai mimpinya mengajar di kampus ternama di Banten.

Herayati, anak tukang becak lulus Cum Laude
“2018 lalu saya diminta datang ke Untirta, tapi saat itu saya baru lulus S1, sementara jadi dosen minimal S2,” kata Hera, saat ditemui di kediamannya di Jalan Masigit-Sumur Menjangan, Grogol, kota Cilegon, beberapa hari lalu.

Hera kebetulan juga mengambil program fast track di ITB dan melanjutkan S2 disana. Hebatnya, Hera bisa menaklukkan program S2 tersebut dalam waktu kurang dari satu tahun dan kembali mendapatkan predikat Cum Laude dengan IPK 3,8.

Usai lulus, Untirta kembali memanggil Hera, dan langsung memberinya amanah untuk mengabdi sebagai dosen luar biasa di jurusan Teknik.

“Maunya jadi dosen tetap, tapi harus PNS, sambil menunggu penerimaan, jadi dosen luar biasa dulu sementara di teknik untuk kimia dasar, mulai ngajar bulan September ini,” ujar perempuan kelahiran 17 April 1997 ini. 

 

Baca Ini Juga Ya :   12 Tahun DO, Mark Zuckerberg Akhirnya Wisuda

Jangan Pernah Mengkompromikan Impianmu

Di awal tahun kuliahnya, Hera mendapatkan sejumlah beasiswa, diantaranya adalah program bidik misi dan bantuan dari Pemerintah kota Cilegon. Namun, beasiswa ini kadang masih kurang menutupi kebutuhannya sehari- hari. Di sisi lain, ia sadar tidak bisa mengandalkan kiriman dari orangtuanya.

Untuk mengakali keadaan, ia mencari uang tambahan dengan berbagai cara. Mulai dari menjadi asisten dosen, hingga mengajar bimbel.

Apa yang dicapai oleh Hera memang bukan dongeng yang mudah dialami siapa saja. Mimpi Hera tercapai karena kerja keras yang ia lakukan dan keteguhan yang ia miliki. Sekalipun Hera tidak pernah menggunakan latar belakang keluarganya untuk meratapi keadaan. Sebaliknya, ia bisa mengabaikan semua itu dan fokus untuk belajar. Terbukti, ia berhasil menyabet gelar sarjana dan magister di IT. Kini kerja keras dan pengorbanannya terbayar sudah.

Baca Ini Juga Ya :   Bikin Haru.. Tanpa Kaki, Ayah Ini Rela Menjadi Kuli Panggul demi Sekolahkan Anak

Komentar

komentar

Tags: