Type to search

Trending

Kecewa Zonasi, Siswa SD Berprestasi di Pekalongan Bakar Piagam

Kecewa sistem zonasi, anak SD bakar piagam lomba

Sistem zonasi yang diberlakukan dalam penerimaan siswa baru tahun ini memang masih menuai pro kontra. Ada yang menerima sistem baru ini meski dianggap belum sempurna dengan alasan sudah saatnya untuk pemerataan pendidikan. Namun tidak sedikit yang kontra lantaran menganggap sistem zonasi membuat siswa berprestasi kecewa karena kesulitan menembus sekolah favoritnya.

Salah satu cerita kekecewaan datang dari Yumna (12), siswa lulusan SDN 02 Pekeringanalit. Siswa berprestasi ini membakar belasan penghargaan dan piala yang diperolehnya. Pembakaran ini sendiri dilatarbelakangi kekecewaan Yumna karena tidak diterima di sekolah favoritnya, SMPN 1 Kajen.

Saat ditemui di rumahnya yang terletak di Griya Kajen Indah RT 4 RW 12, Desa Gandarum, Kecamatan Kajen, Yumna disebut sangat kecewa. Ia merasa masih sedih hingga terbawa sakit. Hanya orangtuanya, yaitu Sugeng Wiyoto (50) dan Sukoharti (45).

Baca Ini Juga Ya :   Kisah Pilu Bocah 12 Tahun Rawat Ayah yang Sakit Tumor Otak

Sang ayah mengatakan pembakaran belasan piagam penghargaan ini dilakukan anaknya karena merasa piagam- piagam ini tidak berlaku lagi dengan kondisi saat ini. Piagam- piagam ini sendiri adalah kejuaraan seni dan agama yang pernah ia ikuti. Beberapa diantaranya menyabet juara satu tingkat Kabupaten Pekalongan. Kejuaraan yang pernah diikuti dan pernah menyabet juara satu diantaranya adalah menulis halus, tilawah, cerita islami, adzan, nyanyi solo, nyanyi grup, dan dokter kecil.

“Anak saya juga masuk anak yang selalu memiliki rangking dikelasnya. Mungkin berpikiran piagam-piagam tidak membantu dirinya masuk ke SMP Negeri 1 Kajen (sekolah yang diinginkan), jadi akhirnya dibakar,” kata Sugeng.

Sebelumnya Yumna berusaha mendaftar ke SMP N 1 Kajen, namun mentok karena aturan zonasi yang ada.

Baca Ini Juga Ya :   Salut! Dari Mantan Pemulung Kini Jadi Lulusan Terbaik di Melbourne
Orangtua Yamni saat ditemui media

Orangtua Yumna saat ditemui media/ via Detik.com

Di hari pertama pendaftaran, Sugeng mengantarkan anaknya melakukan pendaftaran online melalui jalur zonasi. Namun oleh guru dan kepala sekolah dasar, ia disarankan untuk mendaftar lewat jalur prestasi.

Di hari kedua, dirinya mendaftar ke jalur prestasi namun tidak bisa karena sudah mendaftar lewat jalur zonasi. Hasilnya, karena jarak sekolah 1,8 km dari rumahnya, Yumna tidak masuk ke SMP N 1 Kajen.

Sebenarnya, penerimaan siswa baru ini sendiri bisa dilakukan melalui tiga jalur, yaitu jalur zonasi, jalur prstasi, dan jalur perpindahan orangtua. Namun karena minim sosialisasi dari dinas Pendidikan, tidak sedikit orangtua yang mengeluh dengan sistem zonasi ini.

Baca Ini Juga Ya :   Viral! Satpam Ini Rajin Menata Motor Siswa Berdasarkan Warna dan Tipe

“Sebagai orangtua kecewa ya kecewa. Kita sudah mendaftar ke jalur prestasi kata pihak sekolah (SMP) tidak bisa, harusnya daftar di sekolah di luar zonasi,” ungkap Sugeng.

Karena kecewa, sang anak akhirnya nekat membakar semua piagam penghargaan yang ia terima karena dianggap tidak berguna.

“Piagam tidak diperlukan lagi katanya,” tambah Sugeng.

Namun untuk mengobati kekecewaan anaknya, sang Ayah mengaku berupaya membesarkan hati anaknya. Ia kini sudah mendaftarkan anaknya ke sekolah swasata. Meski begitu ia berharap pihak pemerintah menyesiakan banyak sekolah negeri lebih dulu sebelum menerapkan sistem zonasi ini.

Komentar

komentar

Tags:

You Might also Like