Type to search

Perlu Tahu

9 Perdebatan Paling Memusingkan yang Akan Kamu Alami Setelah Menjadi Ibu

Perdebatan yang akan kamu alami saat mulai menjadi seorang ibu

Berbeda dengan masa- masa dimana kamu masih single, saat kamu sudah menikah dan mempunyai anak, ada banyak tanggung jawab baru yang akan kamu emban. Selain berjibaku dengan kewajiban sebagai istri dan ibu, ada satu hal lai yang juga perlu kamu hadapi, yaitu perdebatan memusingkan seputar kehidupan anak dan rumah tangga.

Mungkin sih selama ini kamu biasa mengintip perdebatan ini di media sosial atau cerita orang lain. Namun saat kamu sudah menjadi seorang ibu, mau tak mau, kamu akan terlibat dalam perdebatan ini. Perdebatan apa sajakah itu? Yuk simak disini :

  1. Kita mungkin familiar dengan pemberian vaksin sejak kita masih kecil. Di luar sana, ada orang- orang yang dengan gencar menyerukan antivaksin.

Vaksin dan imunisasi sampai saat ini masih diperdebatkan

Menurut Departmen Kesehatan Indonesia, vaksin adalah bentuk produk biologi yang berasal dari bakteri, virus, atau kombinasi keduanya yang telah dilemahkan. Salah satu alasan kenapa vaksin ini diberikan adalah untuk merangsang antibody dari infeksi tertentu.

Program imunisasi atau vaksin ini sendiri merupakan salah satu program kesehatan yang paling efektif untuk mencegah cacat, sakit, atau kematian yang disebabkan oleh penyakit versi Kementrian Kesehatan.

Meski begitu, mereka yang kontra dengan vaksin juga punya alasan tersendiri. Ada yang berpendapat bahwa penyakit itu datangnya dari Tuhan, dan jika memang Tuhan sudah berkehendak, maka penyakit akan datang dengan sendiri

 

  1. ASI atau Susu Formula?

ASI vs susu formula? Perdebatan yang tak pernah berujung

Perdebatan ASI vs susu formula juga sering menjadi pembahasan yang nggak ada habisnya di kalangan ibu- ibu. Harus diakui, ASI adalah nutrisi yang sangat penting untuk bayi. Sayangnya, ada beberapa kondisi dimana susu formula juga dibutuhkan. Misalnya saja saat kondisi ASI ibu tidak mencukupi atau alasan kesehatan.

Ada juga beberapa kondisi dimana bayi tidak bisa menerima ASI, seperti galaktosemia, maple syrup urine disease, dan fenilketonuria. Setiap ibu punya kondisi yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Jadi, sebenarnya peperangan antara ASI vs susu formula ini tidak benar- benar penting. Yang paling penting adalah bayi mendapatkan nutrisi yang ia butuhkan untuk tumbuh kembangnya.

Baca Ini Juga Ya :   Kalau Kamu Menikah Lagi, Jangan Pernah Berpikir untuk Meninggalkan Anakmu

 

  1. Saat anak mulai tumbuh, timbul perdebatan soal mengenalkan gadget atau tidak mulai terjadi. Ada juga perdebatan tentang durasi diperbolehkannya anak- anak untuk bermain gadget.

Mainan HP sambil tidur

Berbeda dengan anak jaman dulu, anak jaman sekarang, terutama di kota, sangat familiar dengan smartphone atau table. Saat orangtua sibuk, benda inilah yang akan menemani anak- anak dalam bermain. Akibatnya, perdebatan tentang penggunaan gadget dan durasinya untuk anak- anak pun mulai muncul. Orangtua yang pro gadget pun akan sensitif karena menganggap gadget dapat membantu merangsang daya pikir anak, sekaligus sebagai pengisi aktifitas selama orangtua sibuk.

Namun, sebagian orangtua mengatakan kalau gadget bukan lah untuk anak- anak. Atau setidaknya, ada batas usia yang cukup untuk mengenalkan gadget pada anak- anak. Jika pun memang diperbolehkan, sebaiknya ada durasi yang wajar untuk membiarkan anak bermain gadget. Jangan sampai karena asyik dengan gadgetnya anak menjadi malas belajar, kurang istirahat, dan kesehatan matanya mengalami gangguan.

 

  1. “Kok anaknya belum bisa ngomong sih? Kok belum bisa jalan sih? Seharusnya usia segini kan sudah bisa. Anakku saja blablabla…”

bayi sehat

Ini sih perdebatan paling ngeselin. Ada ibu- ibu yang lupa kalau setiap anak mempunyai tumbuh kembang yang berbeda- beda. Mulai dari usia merangkak, tersenyum, bersuara, makan, bicara, duduk, berjalan, dan sebagainya. Dan ini adalah hal yang normal!

Menyampaikan tumbuh kembang seorang anak sambil membanding- bandingkannya dengan anak yang lain hanya akan menyakiti hati ibu yang lain. Sebaiknya hindari lah melakukan hal ini. Jika memang mempunyai niat untuk membantu, coba lah untuk melakukan pendekatan yang lebih personal agar tak menyinggung.

 

  1. Cara gendong anak dan jenis gendongan yang dipakai juga nggak luput dari perdebatan. Ada yang bilang bagus posisi M, ada juga yang bilang lebih bagus posisi lurus.

Menggendong anak bayi juga sering menjadi perdebatan

Sebelum kita mengenal gendongan modern dan instant, dulu kita mengenal gendongan tradisional yang menggunakan kain jarik dengan simpul mati saat menggendong. Namun dengan banyaknya jenis gendongan masa kini, posisi gendongan pun menjadi bermacam- macam.

Baca Ini Juga Ya :   5 Inspirasi Terkeren Desain Kamar Kos untuk Anak Kuliahan

Ada gendongan ring sling yang seperti jarik dengan cincin pengatur, pouch yang seperti jarik tanpa simpul mati, meh dai (bayi menempel pada punggung penggendong), dan soft structured carrier/SSC (bayi menghadap ke dada ibu).

Apapun jenis gendongan yang digunakan, yang terpenting orangtua harus menyesuaikannya dengan tumbuh kembang anak. Ada beberapa jenis gendongan yang hanya bisa dipakai saat anak mulai duduk dan bisa menyangga leher dengan kuat. Sebelum menggunakannya, ada baiknya mengkonsultasikan dengan para ahlinya agar tidak terjadi kesalahan dengan tumbuh kembang anak.

 

  1. “Melahirkan Caesar atau Normal? Normal, kan?”

Proses melahirkan bayi

Perdebatan tentang cara melahirkan juga nyaris nggak pernah selesai. Ada beberapa ibu yang menyatakan bahwa mereka yang melahirkan secara Caesar belum benar- benar menjadi ibu karena tidak merasakan sakitnya proses persalinan. Padahal, saat melahirkan secara Caesar, ibu justru mengalami proses recovery yang lebih sulit.

Dan seringkali metode melahirkan Caesar diambil dengan pertimbangan kesehatan ibu dan bayi itu sendiri. Proses Caesar sering dilakukan lantaran janin tidak mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi yang cukup, adanya infeksi pada ibu, pendarahan vagina yang berlebihan, preeklamsia, plasenta turun, dan masih banyak lagi.

Ibu yang melahirkan secara Caesar juga lah seorang ibu yang mengingkan hal terbaik untuk bayinya. Perdebatan yang penuh nyinyir ini sebaiknya dihentikan segera. Jika kamu pernah menjadi korban dalam perdebatan ini, sebaiknya jangan ditanggapi terlalu serius ya.

 

  1. “Kapan nih kasih MPASI ke anak? Pakai yang instant atau alami? Kalau yang instant hati- hati lho, ada MSG dan pengawet!”

Tips memberi makan anak bayi

Dokter spesialis anak, Meta Herdiana Haninditia mengungkap bahwa MPASI instant tidak dilarang untuk bayi. MPASI instant ini justru membantu ibu untuk mendapatkan takaran zat besi yang tepat. MPASI pun juga baik asalkan ibu tahu sebarapa banyak zat besi yang mesti dimasak. Misalnya saja untuk mendapatkan 10,8 miligram zat besi diperlukan 950 gram bayam. Sangat banyak ya?

Baca Ini Juga Ya :   Duhhh… Tinggal Bersama Mertua Ternyata Beresiko Merusak Kesehatan Wanita

Sedangkan kandungan MSG dan MPASI instan juga tidak perlu dikhawatirkan orangtua. Mengapa? Karena sudah ada standar baku dari WHO terkait makanan bayi yang dilarang menggunakan MSG & pengawet. Di Indonesia sendiri, produk MPASI yagn beredar harus terdaftar di BPOM sehingga keamanannya terjamin. MPASI dapat awet sendiri karena menggunakan teknik drum drying.

 

  1. “Habis cuti selesai, mau ngapain? Tetep kerja, kan/ Sayang banget lho sekolah tinggi- tinggi tapi Cuma jadi ibu rumah tangga saja?”
Wanita cantik minum kopi

via Food Revolution Network

Padahal menjadi seorang ibu rumah tangga bukan lah hal yang memalukan lho. Justru ini adalah peran yang sangat membanggakan karena kamu bisa membesarkan anak sendiri tanpa bantuan asisten rumah tang. Soal Pendidikan, hal ini memang harus kamu lakukan agar kelak kamu bisa mendidik anak- anakmu dengan cara yang terbaik dan bisa menularkan ilmumu secara langsung. Bukankah ibu yang pintar juga akan melahirkan anak- anak yang pintar juga?

 

  1. Yang terakhir adalah soal cara mendidik anak. Apakah dengan cara yang lembut atau tegas
keluarga,family,orang tua

Ilustrasi Gambar: Pixabay

Kelompok A mengatakan kalau anak sebaiknya jangan dimanja agar tidak ketergantungan pada orangtua. Sedangkan kelompok B mengatakan anak tidak boleh dikerasi agar tidak trauma di masa depan. Ada yang mengatakan anak tidak boleh dibentak agar tidak menjadi anak yang keras. Namun di sisi lain ada juga yang bilang kalau anak perlu dimarahi sesekali agar dia memahami dan memperhatikan ajaran orangtua. Dengan begitu kelak anak akan menjadi sosok yang patuh dan disiplin. Hmmm…. Lumayan membingungkan, ya?

Apapun itu, orangtua sebaiknya menarapkan pola asuh demokratis untuk anak- anaknya. Dengan pola asuh ini, orangtua akan menetapkan aturan untuk anak- anak. Namun di sisi lain, orangtua juga terbuka mendengarkan anak- anak dan memahami kebutuhan mereka. Jika anak- anak melanggar, orangtua harus memberikan teguran secara halus tanpa kekerasan. Jangan lupa juga, kekompakan suami istri juga penting dalam mendidik anak ya.

 

Referensi : IDN Times

Komentar

komentar

Tags:

You Might also Like